Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (9/9) bergerak menguat 121 poin atau 0,69 persen menjadi Rp17.511 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.632 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Dubes Inggris Gelar Perayaan Ulang Tahun Raja Charles III

Tercatat, arus modal yang masuk ke pasar obligasi naik 90,5 juta dolar AS karena dipengaruhi membaiknya defisit anggaran dan penerimaan pajak, spread yield yang masih lebar dibandingkan obligasi pemerintah. Kenaikan inflasi AS yang berlanjut dinilai membuat obligasi pemerintah AS secara umum kurang menarik.

Di samping itu, investor juga menanti data inflasi AS pada Kamis (10/9) terkait harga minyak yang masih bertahan di level tinggi.

Baca juga:  Pertemuan Bilateral Indonesia-Belanda Sepakat Perkuat Kerja Sama Repatriasi Benda Budaya

Inflasi AS secara bulanan dan tahunan diperkirakan masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen dipengaruhi harga minyak. Adapun inflasi inti tahunan diprediksi berkisar 2,4 persen.

“Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen,” ungkap Rully.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.552 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.618 per dolar AS. (kmb/balipost)

Baca juga:  Belum Status PSBB, Pelabuhan Gilimanuk Masih Buka
BAGIKAN