
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung menggelar rapat intensif guna membahas ancaman krisis pasokan air bersih di kawasan Badung Selatan akibat musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan tahunan.
Meskipun Perumda Air Minum Tirta Mangutama telah menyelesaikan proyek strategis pemasangan transmisi pipa bawah laut di sepanjang Tol Bali Mandara, keterbatasan sumber air baku di tingkat hulu dan muara mengancam kesinambungan distribusi air ke pusat industri pariwisata tersebut.
Isu tersebut mengemuka dalam Rapat Lanjutan Perubahan Rencana Kerja dan Anggaran (PRKA) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung yang diselenggarakan pada Selasa (1/9). Rapat penting ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Badung, IB. Surya Suamba, serta dihadiri oleh jajaran direksi dan manajemen Perumda Tirta Mangutama.
Sekda Badung, IB. Surya Suamba, menegaskan pentingnya langkah konkret dan langkah strategis yang terukur dalam menghadapi keterbatasan air baku ini. Menurutnya, musim kemarau panjang memicu penurunan debit air yang signifikan di instalasi pengolahan muara (Estuary Dam). Hal ini berdampak langsung pada pasokan air baku yang kian menyusut.
“Perlu ditegaskan kembali skema teknis yang diambil. Kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang, sehingga volume air baku di estuary dipastikan berkurang pesat. Pertanyaannya, bagaimana neraca air di Badung Selatan saat ini? Berapa riil kebutuhan masyarakat dan industri, serta apa langkah darurat saat pasokan berkurang?” ujar Surya Suamba.
Ia mengungkapkan bahwa masyarakat di wilayah Ungasan saat ini harus mengeluarkan biaya cukup tinggi hingga Rp60.000 per meter kubik untuk membeli air bersih dari tangki swasta. Kondisi serupa terjadi di Pecatu akibat menyusutnya air di Estuary Dam. Sekda mengingatkan bahwa selesainya pipa bawah laut tol pada November mendatang tidak akan berdampak maksimal jika ketersediaan air bakunya tidak ada.
“Jika pipa tol tuntas November namun airnya tidak ada, apa yang mau dialirkan? Jika kita ambil dari Sistem Blusung, daerah Kerobokan yang akan kekurangan. Karena itu, kita butuh tata kelola dan rekayasa jaringan yang presisi,” tegasnya.
Sebagai opsi solusi jangka pendek dan menengah, Pemkab Badung mengkaji rekayasa pengalihan pasokan air baku antarwilayah. Kelebihan pasokan air dari Pengolahan Penet disalurkan untuk memenuhi kawasan Cemagi, Canggu, dan Pererenan. Dengan demikian, pasokan dari Blusung dapat dimaksimalkan untuk memasok kawasan selatan.
Selain itu, Pemkab Badung mempertimbangkan penyesuaian tarif khusus bagi sektor industri pariwisata. Langkah ini diambil agar beban pembelian air bersih masyarakat tidak melonjak tinggi.
“Daripada masyarakat terus membeli air tangki seharga Rp60.000 per meter kubik, lebih baik kita usulkan ke Kuasa Pemilik Modal (KPM) untuk menyesuaikan tarif industri secara terukur. Kita beli air baku Rp3.000, lalu dialokasikan secara adil. Ini jauh lebih ekonomis bagi publik,” jelasnya.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mangutama, I Wayan Suyasa, menjelaskan bahwa pihak perusahaan telah bereksperimen dan berinvestasi pada peningkatan kapasitas di IPA Tegeh Sari dan Estuary Dam melalui penambahan serta optimalisasi sistem pompa.
Namun, Suyasa menggarisbawahi tantangan baru akibat pesatnya pembangunan sarana pariwisata yang memicu eksploitasi air bawah tanah (ABT) secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan terjadinya intrusi air laut yang semakin meluas ke daratan, bahkan telah terdeteksi mencapai kawasan Jalan Imam Bonjol dan Dewi Sri.
“Melihat pasokan air baku darat yang menyusut dan tingginya intrusi air laut, kami menyiapkan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) untuk mengolah air laut di wilayah pesisir seperti Canggu, Kuta, dan sekitarnya,” terangnya.
Dalam rencana penganggaran Perumda Tirta Mangutama, dialokasikan anggaran senilai Rp4 miliar lebih untuk rehabilitasi dan pengembangan sumber air baku, Rp81 miliar lebih untuk pengembangan serta pemasangan jaringan transmisi dan distribusi air, serta Rp2 miliar lebih khusus untuk optimalisasi operasional rutin dan pengembangan sistem pengolahan limbah. (Parwata/balipost)










