Prosesi Ngingsah, Nyangling, dan Mamineh Empehan Lembu serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Senin (31/8). (BP/jay)

BANGLI, BALIPOST.com – Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, terus berlanjut. Pada Senin (31/8), yang bertepatan dengan Soma Kliwon Uye, dilaksanakan sejumlah prosesi penting sebagai bagian dari tahapan persiapan upacara.

Pada hari tersebut, krama Desa Adat Songan bersama para pangrajeg karya dan pihak yang terlibat dalam pelaksanaan yadnya melaksanakan beberapa ritual, di antaranya Ngingsah, Nyangling, dan Mamineh Empehan Lembu. Rangkaian tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan berbagai sarana upakara yang nantinya digunakan dalam pelaksanaan Tawur Agung Manca Wali Krama. Upacara ini dipuput Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, dari Griya Kedhatuan Kawista Pura, Desa Blatungan, Pupuan dan Ida Pandita Mpu Dharma Daksa Prami, dari GriyaLingga Acala, Desa Calo.

Suasana di areal Pura Hulundanu Batur sejak pagi terlihat dipenuhi aktivitas persiapan yadnya. Krama melaksanakan setiap tahapan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti tata titi yang telah ditetapkan. Berbagai bahan yang akan digunakan sebagai sarana upacara terlebih dahulu dipersiapkan, dibersihkan, dan disucikan sebelum digunakan dalam rangkaian yadnya berikutnya.

Baca juga:  Didapuk Jadi Pangerajeg Karya, Wabup Mahayastra Ikuti Prosesi Mejaya-jaya

Yajamana Karya, Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, Selasa (1/9) mengatakan, prosesi Ngingsah merupakan salah satu tahapan yang berkaitan dengan pembersihan bahan-bahan upakara, khususnya biji-bijian dan beras yang akan digunakan sebagai sarana banten. Secara sekala, proses ini dimaknai sebagai upaya membersihkan bahan dari kotoran maupun unsur-unsur yang dapat mengurangi kelayakannya sebagai sarana persembahan.

Setelah melalui tahapan tersebut, dilanjutkan dengan Nyangling. Prosesi ini memiliki makna penyempurnaan terhadap kesucian sarana upakara. Tidak hanya menekankan aspek kebersihan secara fisik, Nyangling juga mengandung dimensi niskala, yakni memohon agar bahan yang akan digunakan dalam yadnya memperoleh kesucian dan keselarasan sehingga layak dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.

Baca juga:  Seminggu Nihil Kasus, Jembrana Bertambah Satu Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19

Sementara itu, lanjut Ida Sri Bhagawan, prosesi Mamineh Empehan Lembu menjadi bagian lain yang tidak kalah penting dalam rangkaian persiapan tersebut. Dalam prosesi ini dilakukan penyiapan empehan atau susu dari lembu yang dipandang sebagai sarana suci dalam pelaksanaan yadnya.

Susu lembu dalam konteks upacara memiliki nilai simbolis yang erat dengan kehidupan, kesuburan, kemakmuran, serta penghormatan terhadap alam dan sumber kehidupan. “Penggunaan sarana tersebut sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur umat atas anugerah alam yang telah menopang kehidupan manusia,” ucapnya.

Sementara Ketua Pelaksana Karya, Jero Saba menambahkan rangkaian Ngingsah, Nyangling, dan Mamineh Empehan Lembu tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan dalam proses mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana yadnya. Setiap tahapan memiliki fungsi serta makna tersendiri, baik dari sisi sekala maupun niskala.

Baca juga:  Diskes Gelar Fogging Massal Selama September 2023

Keterlibatan krama secara bersama-sama menjadi bagian penting dalam menyukseskan Karya Tawur Agung Manca Wali Krama. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada Ida Bhatara, ngayah juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga kebersamaan, gotong royong, serta meneruskan tata titi pelaksanaan upacara yang diwariskan secara turun-temurun.

Dengan terlaksananya rangkaian upacara tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur yang berlangsung selama beberapa tahapan hingga menuju rangkaian puncak karya. Melalui pelaksanaan setiap prosesi secara tertib dan penuh kesungguhan, krama Desa Adat Songan berharap seluruh rangkaian karya dapat berlangsung lancar, labda karya, serta membawa kerahayuan, keseimbangan, kesuburan, dan keharmonisan bagi krama, desa, serta alam lingkungan di sekitar Pura Hulundanu Batur. (Pramana Wijaya/balipost)

BAGIKAN