
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Bali pada 1–4 September 2026. Gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di empat wilayah perairan, yakni Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Perairan Selatan Bali, dan Selat Lombok bagian selatan.
Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, Senin (31/8), mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jasa transportasi laut dan nelayan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca maritim tersebut.
Berdasarkan informasi BMKG, selain gelombang tinggi 2,5–4 meter, gelombang kategori sedang dengan ketinggian 1,25–2,5 meter juga berpeluang terjadi di Perairan Utara Bali dan Selat Lombok bagian utara. Informasi resmi BMKG yang berlaku saat ini juga mencatat empat perairan Bali berpotensi mengalami gelombang 2,5–4 meter.
Kondisi tersebut dipengaruhi pola angin permukaan. Di Perairan Utara Bali, angin umumnya bertiup dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan berkisar 6–25 knot, sedangkan di Perairan Selatan Bali angin umumnya bertiup dari arah Tenggara–Selatan dengan kecepatan 8–25 knot.
Potensi gelombang tinggi juga terpantau secara khusus di Perairan Selatan Bali. Prakiraan maritim BMKG menunjukkan tinggi gelombang di wilayah tersebut dapat mencapai sekitar 3–3,4 meter pada sejumlah periode 1 September 2026, dengan kecepatan angin hingga sekitar 23 knot.
BMKG mengingatkan kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk perahu nelayan, kondisi dinilai berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sementara kapal tongkang berisiko apabila kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter.
Adapun bagi kapal feri, risiko meningkat apabila kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Karena itu, nelayan, operator kapal, serta masyarakat yang beraktivitas di laut diimbau memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan gelombang dari BMKG sebelum melakukan pelayaran. Kondisi laut juga perlu menjadi pertimbangan dalam pengaturan operasional penyeberangan, khususnya pada jalur yang berhadapan dengan perairan selatan Bali dan Selat Lombok.
Pihaknya juga mengingatkan bahwa kondisi gelombang dan angin dapat berubah sehingga informasi terbaru perlu terus dipantau.
Sementara itu, masyarakat diimbau tidak memaksakan aktivitas pelayaran ketika kondisi cuaca dan gelombang dinilai membahayakan keselamatan. (Winata/balipost)










