Gubernur Bali, Wayan Koster melepas bantuan logistik untuk warga NTT terdampak bencana gempa yang diberangkatkan dari Makorem 163/Wira Satya, Denpasar, Senin (31/8). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kepedulian masyarakat Bali terhadap warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam kembali diwujudkan melalui pengiriman bantuan logistik. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama pemerintah kabupaten/kota se-Bali menggalang bantuan yang kemudian dihimpun dan diberangkatkan secara bersama-sama.

Sebanyak sembilan truk berisi bantuan logistik diberangkatkan dari Makorem 163/Wira Satya, Denpasar, Senin (31/8). Bantuan tersebut akan dibawa menuju Labuan Bajo, NTT, untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat terdampak melalui jajaran TNI di wilayah setempat.

Pemberangkatan bantuan dilepas langsung Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan Komandan Korem (Danrem) 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra. Hadir pula Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja serta perwakilan bupati dan wakil bupati dari kabupaten/kota se-Bali.

Gubernur Koster mengatakan pengiriman sembilan truk bantuan tersebut merupakan bentuk gotong royong seluruh kabupaten/kota di Bali yang dikoordinasikan Korem 163/Wira Satya.

Ia mengapresiasi inisiatif Danrem yang mengorganisir kepedulian pemerintah daerah di Bali sehingga bantuan dapat dikirim secara bersama-sama dan membawa nama Bali.

“Terima kasih atas inisiatif Pak Danrem untuk mengorganisir kepedulian kita bersama terhadap bencana yang dialami di NTT. Untuk semua kabupaten/kota di Bali jadi satu, mewakili Provinsi Bali,” kata Gubernur Koster.

Ia mengatakan Bali sebelumnya juga telah memberikan bantuan kepada wilayah terdampak. Saat berkunjung ke NTT bersama Gubernur NTB, bantuan senilai Rp1 miliar telah disalurkan. Bantuan dengan nilai serupa juga diberikan Provinsi NTB.

Untuk pengiriman kali ini, Gubernur Koster menyebut kontribusi berasal dari pemerintah kabupaten/kota di Bali. Salah satunya Pemkot Denpasar yang menghimpun bantuan secara gotong royong dari aparatur sipil negara (ASN) hingga lebih dari Rp700 juta.

“Jadi kelihatan Bali itu tampil, peduli, kita berbagi rasa terhadap semeton kita di NTT yang sedang mengalami musibah bencana alam yang tentu saja berdampak sangat berat bagi kehidupan masyarakat di sana,” ungkapnya.

Baca juga:  Menteri BUMN Apresiasi Swab Gratis BNI Libatkan 30 Ribu Peserta

Gubernur Koster juga mengingatkan agar keselamatan sembilan truk dan para pengemudi menjadi perhatian selama perjalanan. Dengan waktu tempuh sekitar tiga hari dua malam, pengemudi diminta bergantian agar tidak mengalami kelelahan.

Untuk mendukung kebutuhan selama perjalanan, Gubernur Koster memberikan bantuan operasional sebesar Rp5 juta untuk setiap truk. Dengan sembilan truk, dukungan awal tersebut mencapai Rp45 juta dan kemudian dibulatkan menjadi Rp50 juta.

Dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan perjalanan, termasuk makanan dan waktu istirahat para pengemudi.

“Supaya buat istirahat di jalan, kopi, makan. Tiga hari itu lama itu, harus makanan yang bagus, yang sehat, supaya mantap jalannya,” ujarnya.

Jenis bantuan yang dikirim berupa berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di antaranya beras, mi, air, biskuit, kopi, teh, kecap, minyak goreng dan garam. Selain kebutuhan pangan, terdapat pula pakaian, obat-obatan dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Ada untuk konsumsi makanan, ada pakaian, ada juga obat-obatan, dan juga berbagai jenis kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh korban. Banyak,” kata Koster.

Ia menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan kondisi di NTT untuk menentukan kebutuhan bantuan berikutnya. Koordinasi dengan Gubernur NTT juga terus dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai situasi di lapangan.

Dukungan di bidang kesehatan juga disiapkan. Tim kesehatan yang terdiri atas dokter dan perawat turut tersedia untuk membantu masyarakat terdampak apabila dibutuhkan.

Gubernur Koster juga membuka peluang agar gerakan kemanusiaan tersebut diperluas dengan melibatkan sektor swasta. Menurutnya, kepedulian terhadap korban bencana tidak harus hanya berasal dari pemerintah daerah.

“Nah, ini yang belum. Bagus juga idenya. Kita galang juga yang swasta,” cetus Koster.

Gagasan tersebut langsung mendapat respons dari Danrem 163/Wira Satya yang menyatakan kesiapan untuk menindaklanjutinya.

Baca juga:  Diduga, Ada Campur Tangan Oknum PNS di Pemalsuan SK Mutasi Badung

Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI, Ida I Dewa Agung Hadisaputra mengatakan, pengiriman bantuan tersebut merupakan hasil koordinasi dengan Gubernur Bali sekaligus upaya menghimpun kepedulian seluruh kabupaten/kota di Bali agar bantuan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT dapat disalurkan secara terkoordinasi.

Seluruh bantuan yang berasal dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Bali dikumpulkan menjadi satu sebelum diberangkatkan. Sembilan truk disiapkan untuk membawa bantuan tersebut dan akan mendapat pengawalan selama perjalanan.

“Bantuan ini kita kumpulkan menjadi satu, kemudian kita berangkatkan bersama-sama. Ada sembilan truk yang kita siapkan,” ujar Hadisaputra.

Menurutnya, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hari dua malam. Rute pengiriman dimulai dari Pelabuhan Karangasem menuju Nusa Tenggara Barat (NTB), kemudian dilanjutkan ke Labuan Bajo.

Setibanya di Labuan Bajo, seluruh bantuan akan dipusatkan terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke berbagai lokasi yang membutuhkan. Pendistribusian selanjutnya akan dilakukan jajaran TNI di wilayah tersebut karena dinilai lebih mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Kita pusatkan di Kabupaten Labuan Bajo, sehingga di sana ada tugas anggota TNI di sana untuk membagikan ke mana-mana mereka yang lebih paham,” katanya.

Hadisaputra memastikan akses menuju wilayah tujuan telah dikoordinasikan, baik dengan pihak terkait di NTB maupun NTT. Untuk menjaga keselamatan selama perjalanan, pengiriman juga disiapkan dengan sistem pengawalan serta pergantian pengemudi.

Terkait kondisi terkini di NTT, ia mengatakan gempa-gempa kecil masih terjadi. Status tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah berlangsung sejak 15 hingga 31 Agustus 2026. Setelah masa tersebut berakhir, seluruh pemangku kepentingan masih menunggu perkembangan dan keputusan terkait status selanjutnya.

“Kemungkinan akan diperpanjang. Setelah selesai dengan tanggap darurat, baru akan masuk situasi yang namanya tahap rekonstruksi, mulai pembangunan fasilitas umum, termasuk juga pembangunan rumah-rumah masyarakat,” jelasnya.

Baca juga:  Mendagri Dukung RUU Provinsi Bali Masuk Prolegnas 2020

Hadisaputra menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Bali, Wali Kota Denpasar, para bupati dan seluruh pihak yang telah ikut menghimpun serta memfasilitasi bantuan. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi bentuk solidaritas Bali terhadap masyarakat NTT yang tengah menghadapi dampak bencana.

“Harapannya apa yang kita berikan ini mohon dapat membantu sedikit banyaknya saudara-saudara kita yang ada di wilayah gempa yaitu Nusa Tenggara Timur,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan Pemkot Denpasar berhasil menghimpun lebih dari Rp700 juta melalui gotong royong bersama ASN. Dari dana tersebut, sekitar Rp150 juta telah diwujudkan dalam bentuk bantuan sembako yang dikirim bersama rombongan bantuan Bali.

Sedangkan sekitar Rp550 juta lainnya masih akan dikoordinasikan penggunaannya sesuai kebutuhan masyarakat di NTT. Salah satu opsi yang dipertimbangkan yakni menyediakan pakaian sekolah dan perlengkapan belajar bagi anak-anak terdampak.

“Sekarang ada masukan karena banyak dibutuhkan pakaian-pakaian sekolah. Mungkin akan disiapkan juga pakaian sekolah. Intinya kita akan benar-benar memperhitungkan apa yang terbaik bantuan yang kita berikan, dan tentu tetap di bawah arahan Pak Gubernur,” tukas Jaya Negara.

Ia mengatakan bantuan akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi penumpukan bantuan dengan jenis yang sama, sekaligus memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran.

Di sisi lain, terkait kondisi Bali, Koster mengatakan BPBD telah dikoordinasikan untuk mengantisipasi potensi bencana selama musim kemarau, terutama kekeringan, kebakaran, dan persoalan ketersediaan air. Sejauh ini, menurutnya, kondisi tersebut masih dapat dikelola.

Sementara terkait kemungkinan adanya wisatawan yang terdampak bencana di NTT kemudian mengungsi ke Bali, Koster menyebut hingga kini belum ada laporan mengenai wisatawan yang mengungsi ke Pulau Dewata. (kmb/balipost)

BAGIKAN