
MANGUPURA, BALIPOST.com – Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Badung tengah mematangkan persiapannya dalam melahirkan identitas baru berupa Batik Badung. Saat ini, proses pembuatan batik khas daerah tersebut telah memasuki tahap finalisasi motif setelah melalui riset mendalam.
Pengembangan Batik Badung ini merupakan gagasan dari Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Badung yang dikolaborasikan bersama Komisi Ekraf serta Disperinaker Badung. Produk kriya fashion ini ditargetkan rampung pada Agustus dan siap diluncurkan secara resmi pada 2 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional.
Kepala Disperinaker Kabupaten Badung, AA Ngurah Rai Yuda Darma, menjelaskan bahwa pemerintah fokus memastikan karakter visual batik tersebut agar benar-benar merepresentasikan ciri khas daerah dan tidak menyerupai motif dari wilayah lain.
“Yang sedang kami pastikan sekarang adalah bagaimana motif tersebut benar-benar memiliki karakter khas Badung dan tidak sekadar menyerupai motif daerah lain. Targetnya selesai pada Agustus dan diluncurkan pada 2 Oktober 2026 bertepatan dengan Hari Batik Nasional,” ujar AA Ngurah Rai Yuda Darma pada Kamis (27/8).
Dalam proses pengembangannya, sebanyak 12 perajin lokal yang terdiri dari 3 desainer dan 9 perajin dilibatkan secara langsung. Yuda Darma menegaskan bahwa perajin lokal akan menjadi ujung tombak utama dalam rantai produksi Batik Badung. Pemerintah tidak hanya berhenti pada pembuatan motif, tetapi berlanjut pada pelatihan, pendampingan, hingga uji produksi bersama Industri Kecil Menengah (IKM).
“Konsepnya bukan pemerintah hanya membuat motif, tetapi bagaimana motif tersebut bisa diproduksi oleh perajin Badung, dikembangkan menjadi berbagai produk, kemudian masuk ke pasar. Harapannya, Batik Badung nantinya memberikan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang kerja bagi masyarakat Badung,” tegasnya.
Untuk menjaga kualitas akhir, pendataan serta kurasi IKM akan segera digulirkan setelah peluncuran. Pemerintah juga akan membekali perajin dengan standar teknik produksi, kualitas bahan, pewarnaan, hingga finishing agar kualitas Batik Badung tetap konsisten meski diproduksi oleh tangan yang berbeda.
“Pembedanya adalah pada pola yang akan menjadi dasar motif, nanti pola batik Badung ciri khasnya adalah keris luk telu, nanti pola ini akan dikembangkan menjadi Barbagai motif. Ini melalui riset dan kajian yang mendalam dari aspek filosofi dan identitas Badung yang memiliki karakter yang kuat, estetis, mudah dikenali dan memiliki keunikan,” terangnya.
Tak hanya menyasar pasar lokal, Disperinaker Badung juga menyiapkan strategi kemitraan dengan menggandeng desainer dan industri fashion. Langkah ini diambil agar Batik Badung dapat diserap sebagai produk pariwisata, suvenir, hingga busana harian.
“Prinsip kami sederhana, Batik Badung harus diproduksi oleh masyarakat Badung, nilai tambahnya dinikmati masyarakat Badung, dan pertumbuhannya tetap membuka ruang sebesar-besarnya bagi perajin dan UMKM lokal,” tambahnya.
Guna melindungi karya kreatif dan identitas daerah tersebut dari klaim pihak luar, kata AA Yuda Darma pihaknya memastikan bahwa motif Batik Badung yang telah final akan didaftarkan dan dilindungi secara hukum melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). (Parwata/balipost)










