Program reforestasi di Pura Luhur Batukaru, Penebel, Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Sebanyak 100 pohon ditanam di kawasan hutan seluas 1.000 meter persegi di sekitar Pura Luhur Batukaru, Penebel, Tabanan, Rabu (26/8), sebagai bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis kawasan tangkapan air Batukaru. Program reforestasi dipimpin Dinas Kehutanan Provinsi Bali melibatkan pihak swasta dan Bali Tourism Board ini juga menyiapkan pendanaan pemeliharaan serta pemantauan pohon selama satu tahun.

Penanaman tersebut melanjutkan persiapan lahan yang telah dilakukan sejak pertengahan Agustus. Dari 100 pohon yang ditanam, terdiri atas 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka (Magnolia champaca). Penanaman dijadwalkan berlangsung hingga 2 September 2026.

Pemeliharaan dan pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon dibiayai selama 12 bulan. Kegiatan tersebut meliputi penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup, hingga perlindungan area tanam.

Baca juga:  Satu Lagi Jenazah Terseret Banjir di Kuwum Marga Ditemukan

Data mengenai tingkat keberhasilan hidup dan pertumbuhan pohon akan dipublikasikan setelah masa pemantauan berakhir pada September 2027. Langkah tersebut dinilai penting karena keberhasilan reforestasi tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan pohon bertahan dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., mengatakan Batukaru menjadi salah satu kawasan prioritas reforestasi karena memiliki peran penting bagi wilayah di bagian hilir.

Menurut dia, lereng Gunung Batukaru merupakan bagian dari kawasan tangkapan air yang menopang 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru serta tujuh desa, yakni Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, Sangketan, dan Wongaya Gede. “Reforestasi tidak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak pohon yang ditanam. Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik,” ujarnya.

Baca juga:  DPC Gerindra Karangasem Lapor Perbekel Baturiti ke Polres Karangasem

Ia menambahkan, berkurangnya tutupan vegetasi di dataran tinggi dapat menurunkan kemampuan tanah menyimpan air sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap erosi. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi berdampak terhadap kawasan pertanian berundak di wilayah bawah.

Jenis tanaman yang dipilih juga telah disesuaikan dengan kondisi hutan dan tanah di Batukaru melalui koordinasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Bali serta tenaga teknis setempat. Beringin dipilih tidak hanya karena kesesuaiannya dengan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai penting dalam lanskap budaya kawasan pura di Bali.

Baca juga:  Di Tengah Tingginya Aktivitas Vulkanik, Pencarian 3 Pendaki di Gunung Dukono Dilanjutkan

Pelaksanaan program dikoordinasikan bersama Jero Bendesa Adat, pengempon dan pengurus Pura Luhur Batukaru, serta pemerintah desa setempat. Masyarakat sekitar yang selama turun-temurun menjaga kawasan hutan Batukaru turut dilibatkan dalam pemeliharaan, pemantauan, penyediaan tenaga kerja, dan pengambilan keputusan terkait pelaksanaan program.

Chairman Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengatakan industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap keberlanjutan kawasan tangkapan air. Sebab, hotel, restoran, dan vila di Bali bergantung pada ketersediaan air yang salah satu sumbernya berasal dari kawasan lereng seperti Batukaru. “Ini bukan sekadar kegiatan amal dari sektor pariwisata. Ini merupakan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita,” ujarnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN