
JAKARTA, BALIPOST.com – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperkuat langkah mitigasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Polri menyiagakan puluhan ribu personel serta mengintensifkan patroli darat dan udara untuk mendeteksi sekaligus mencegah meluasnya titik api.
Kepala Biro Pembinaan dan Operasional (Karobinops) Stamaops Polri Brigjen Pol. Auliansyah Lubis mengatakan bahwa langkah tersebut dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat mitigasi sejak dini sekaligus memastikan respons cepat terhadap potensi karhutla.
“Kita dari Polri sudah membuat beberapa strategi terkait dengan untuk mengantisipasi dan melakukan mitigasi terkait dengan karhutla,” ujar Auliansyah, Minggu (23/8) dikutip dari Kantor Berita Antara.
Ia kemudian menjabarkan sejumlah upaya tersebut secara lebih rinci.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar apel kesiapsiagaan secara rutin untuk memastikan kesiapan personel sekaligus mengecek sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam penanganan karhutla.
Terkait kesiapan personel, Auliansyah mengatakan bahwa Polri menyiagakan kekuatan penuh secara nasional. Sebanyak 48.308 personel Korps Sabhara dan 23.360 personel Korps Brimob disiagakan dan siap digerakkan kapan pun dibutuhkan.
Dari sisi sarana dan peralatan, ia mengatakan bahwa Polri telah menyiapkan ratusan unit pompa portabel untuk mencegah api menjalar ke wilayah permukiman, terutama di daerah yang tidak dapat dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat.
Selain itu, Polri juga melengkapi personel dengan alat pernapasan pemadam kebakaran (breathing apparatus), baju tahan panas, serta kendaraan taktis SAR Karhutla berkapasitas 2.500 liter air dan 250 liter foam. Polri juga menyiagakan dua helikopter untuk operasi pemadaman udara (water bombing).
“Kemudian kita juga ada modifikasi drone fire suspension, jadi drone itu bisa terbang, membawa ada delapan bola untuk bisa ditembakkan ke titik api. Jadi begitu lihat titik api, drone itu akan menembakkan, mudah-mudahan api itu bisa padam,” jelasnya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa Polri juga memperkuat patroli darat dan udara dengan memanfaatkan helikopter dan drone untuk memantau wilayah rawan sekaligus mendeteksi potensi titik api sedini mungkin.
Kesiapan lainnya, lanjut Auliansyah, adalah pembangunan infrastruktur pendukung berupa ratusan embung air dan kanal sekat untuk mencegah api menjalar ke wilayah lain, khususnya di kawasan rawan.
“Dan kami juga membangun ribuan sumur bor. Jadi untuk mengantisipasi kalau seandainya embung yang kita buat itu kering, itu juga sudah diantisipasi dengan membuat sumur bor. Jadi kalau misalnya di daerah gambut, sudah terbukti bahwa tidak begitu dalam, mungkin sekitar dalamnya 20 hingga 40 meter itu sudah bisa mendapatkan air,” tambahnya.
Di samping itu, Polri juga menyiagakan dukungan nonfisik melalui sosialisasi kepada masyarakat, penerbitan maklumat larangan membakar lahan, pemetaan titik rawan, serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam merespons cepat karhutla.
Dalam pelaksanaan respons cepat tersebut, Polri akan memantau dan mendeteksi titik panas (hotspot) melalui aplikasi.
Selanjutnya, titik panas tersebut akan diverifikasi oleh personel di lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran, mengingat aplikasi hanya dapat mendeteksi keberadaan titik panas. Dalam proses tersebut, personel Polri akan dibantu unsur lain, seperti TNI dan BPBD.
Apabila kebakaran terkonfirmasi, Polri bersama unsur terkait akan segera melakukan pemadaman sekaligus pendinginan area untuk mencegah api meluas.
“Dalam respons ancaman titik api, Polri menerapkan SOP respons cepat dengan target 1–2 jam sejak terdeteksi hotspot,” imbuhnya. (kmb/balipost)










