Sejumlah wisatawan asing melihat suasana pascakebakaran di Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). (BP/Antara)

LOMBOK TENGAH, BALIPOST.com – Puluhan rumah di kampung adat wisata Sade Desa Rambitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) ludes terbakar, Sabtu malam (22/8).

Kepala Desa Rambitan Lalu Winakse bersama-sama warga langsung melakukan penanganan setelah mendapatkan informasi terjadinya kebakaran. Ia juga langsung berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pemadaman dan mengevakuasi warga yang tinggal di rumah Sade tersebut.

“Kejadian kebakaran sekitar pukul 22.00 Wita. Saya sedang di TKP,” kata Lalu Winakse dikutip dari Kantor Berita Antara.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Baca juga:  Intensitas Gempa Meningkat, Fluida Makin Banyak Naik ke Permukaan Kawah

Api berhasil dipadamkan pada Minggu (23/8) sekitar pukul 05.00 WITA setelah tim gabungan melakukan pemadaman sepanjang malam.

Rumah-rumah di kawasan adat tersebut menggunakan material yang mudah terbakar, antara lain kayu, bambu, dan ilalang.

Kampung Adat Sade merupakan kawasan permukiman masyarakat Suku Sasak yang hingga kini mempertahankan bentuk rumah dan tata kehidupan tradisional.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pemerintah daerah berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan terkait penanganan dampak kebakaran tersebut.

Baca juga:  Hujan Lebat Guyur Bandara I Gusti Ngurah Rai, Lima Penerbangan Dialihkan

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah Supardan mengatakan pihaknya telah menurunkan petugas dan mobil pemadam untuk memadamkan api di rumah adat Sade tersebut.

“Petugas sudah menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan pemadaman,” katanya.

Rumah adat Sade dibangun berdasarkan nilai estetika dan kearifan lokal. Orang sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat ritual adat dan ritual keagamaan.

Baca juga:  Hujan, Cek Prakiraan Cuaca Bali 31 Oktober 2025

Rumah adat suku Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantai dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami.

Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Cara membuat lantai seperti itu sudah diwarisi sejak nenek moyang mereka.

Bahan bangunan seperti kayu dan bambu didapatkan dari lingkungan sekitar. Untuk menyambung bagian-bagian kayu, mereka menggunakan paku dari bambu.

Rumah suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, tidak memiliki jendela. (kmb/balipost)

BAGIKAN