
SINGARAJA, BALIPOST.com – Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengembangkan teknologi berbasis Electroencephalogram (EEG) dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu membaca aktivitas liswytrik otak untuk mengenali niat gerakan seseorang. Riset ini diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang dapat membantu penyandang disabilitas dengan keterbatasan gerak.
Teknologi tersebut memanfaatkan perangkat EEG portabel dengan empat channel sensor untuk menangkap aktivitas listrik otak. Sinyal yang diperoleh selanjutnya diproses menggunakan model AI untuk mengenali pola aktivitas otak.
Salah satu anggota tim, Rama pada Minggu (23/8) mengatakan pengembangan tersebut memanfaatkan konsep motor imagery. Konsep ini memungkinkan sistem membaca pola aktivitas otak ketika seseorang membayangkan melakukan gerakan tertentu.
“Kalau seseorang membayangkan melakukan gerakan, pola aktivitas otaknya dapat dibaca. Dari situ kami mengembangkan bagaimana sinyal tersebut bisa diterjemahkan menjadi perintah,” kata Rama.
Hasil pembacaan aktivitas otak tersebut nantinya berpotensi digunakan sebagai dasar pengendalian perangkat bantu. Salah satu penerapannya berupa kursi roda yang dapat menerima perintah berdasarkan pola aktivitas otak pengguna.
Selain mengenali niat gerakan, tim juga mengembangkan teknologi untuk membaca kondisi emosional. Sinyal EEG dianalisis menggunakan pendekatan valence dan arousal, kemudian dipetakan ke dalam empat kuadran untuk menggambarkan kondisi emosi tertentu.
Meski demikian, pengembangan teknologi ini masih menghadapi sejumlah kendala. Sinyal EEG dapat terganggu noise, sedangkan karakteristik aktivitas otak setiap orang juga berbeda.
Rama mengatakan model AI yang dikembangkan berdasarkan data satu orang belum tentu memiliki tingkat akurasi yang sama ketika digunakan pada orang lain.
“Kalau kita mengembangkan model AI dari orang A lalu diterapkan kepada orang B, akurasinya belum tentu maksimal,” ujarnya.
Karena itu, tim masih mengembangkan model AI yang dapat beradaptasi dengan karakteristik pengguna. Tingkat akurasi dan konsistensi pembacaan sinyal menjadi bagian penting sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih luas.
Teknologi pembacaan aktivitas otak ini juga memiliki potensi pemanfaatan di luar perangkat bantu. Dalam bidang pendidikan, misalnya, teknologi dapat dikembangkan untuk membantu memantau keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sementara di bidang kesehatan dan industri, teknologi berpotensi digunakan untuk membaca kondisi emosional, kelelahan hingga rasa mengantuk. (Nyoman Yudha/balipost)










