
SINGARAJA, BALIPOST.com – Nuansa tempo dulu akan menjadi salah satu daya tarik dalam pelaksanaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Jika pada pelaksanaan sebelumnya pengunjung mendapatkan fasilitas transportasi gratis, tahun ini panitia memilih menghadirkan moda transportasi tradisional berupa dokar.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Buleleng, Gede Gunawan AP, saat dikonfirmasi, Rabu (19/8), mengatakan dua dokar akan disiapkan untuk mendukung konsep heritage yang diusung dalam Bulfest tahun ini. Dua dokar tersebut nantinya akan disiagakan dan berkeliling di sekitar kawasan Bulfest.
Rutenya antara lain menyusuri Jalan Ngurah Rai hingga kawasan Rumah Jabatan Bupati Buleleng. Kehadiran dokar ini tidak semata-mata ditujukan sebagai moda transportasi bagi pengunjung, tetapi juga menjadi bagian dari atraksi untuk menghidupkan kembali suasana masa lalu.
“Untuk Bulfest tahun 2026, memang transportasi gratis seperti tahun 2025 itu tidak ada. Sekarang, karena heritage-nya adalah tempo dulu, panitia memakai dokar,” ujar Gunawan.
Gunawan mengatakan, pemilihan dokar sengaja dilakukan untuk memperkenalkan kembali alat angkut tradisional kepada masyarakat, terutama generasi muda yang mungkin tidak lagi familiar dengan keberadaan dokar sebagai sarana transportasi.
“Karena heritage ini kan tempo dulu. Jadi, kita mencoba nuansanya itu dikembalikan seperti tempo dulu dengan mempergunakan alat angkut tempo dulu, itu kan dokar,” jelasnya.
Menurutnya, keterbatasan kapasitas dokar bukan menjadi persoalan utama. Sebab, keberadaan dua dokar tersebut lebih diarahkan sebagai sarana edukasi sekaligus pengalaman bagi masyarakat untuk mengenal transportasi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Siapa tahu nanti ada anak-anak balita yang akan naik. Jadi kita coba memberikan edukasi bahwa transportasi zaman dulu itu adalah dokar,” katanya.
Masyarakat nantinya diperbolehkan untuk menaiki dokar yang disiapkan panitia. Namun, karena jumlahnya terbatas, Gunawan mengingatkan pengunjung agar tidak berebut. “Diperbolehkan, diperbolehkan. Asal jangan berebut,” katanya.
Untuk setiap dokar, panitia menyiapkan anggaran sebesar Rp300 ribu per hari. Konsep tempo dulu dalam Bulfest 2026 juga tidak hanya diwujudkan melalui dokar. Panitia disebut turut berupaya menghadirkan kembali layar tancap, salah satu hiburan yang identik dengan masa lalu.
Gunawan mengatakan, upaya menghadirkan layar tancap tidak mudah karena perangkat yang masih tersedia sangat terbatas. Panitia bahkan harus mencari hingga ke berbagai tempat untuk menemukan perangkat yang sesuai.
“Dengan menghadirkan dokar dan layar tancap, Bulfest 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang untuk mengenalkan kembali berbagai bagian dari kehidupan masa lalu kepada generasi sekarang,” imbuh Gunawan. (Nyoman Yudha/balipost)










