
SINGARAJA, BALIPOST.com – Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng dituntut meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) seiring target yang dipatok mencapai Rp 12 miliar pada akhir masa jabatan direksi periode 2026-2031. Untuk mengejar target tersebut, pengendalian tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) menjadi salah satu langkah yang akan digenjot.
Target tersebut disampaikan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra usai melantik Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana dan Direktur Teknik I Nyoman Suwirta untuk masa jabatan 2026-2031, Jumat (14/8).
Sutjidra mengatakan, kontribusi Perumda Tirta Hita Buleleng terhadap PAD ditargetkan meningkat sekitar 10 persen setiap tahun. Kenaikan tersebut disusun dengan mempertimbangkan potensi perusahaan dan kinerja yang telah dicapai selama ini.
“Kita naikkan targetnya. Pokoknya saya tingkatkan 10 persen setiap tahun, sesuai dengan bunga bank. Kita realistis melalui potensi-potensi yang ada dan jaringan yang kita miliki,” ujar Sutjidra.
Menurut dia, Perumda Tirta Hita Buleleng masih memiliki ruang untuk meningkatkan kinerja. Hal itu tercermin dari berbagai capaian perusahaan, termasuk opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang diraih secara berturut-turut serta sejumlah penghargaan di tingkat nasional.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana mengatakan target peningkatan kontribusi PAD menjadi tantangan bagi jajaran direksi baru. Dalam rencana bisnis, kontribusi PAD yang pada tahun ini berada di kisaran Rp9 miliar akan dinaikkan secara bertahap hingga mencapai Rp12 miliar pada akhir masa jabatan.
“Tahun ini kita memberikan kontribusi terhadap PAD di angka Rp9 miliar. Kemudian tahun depan ditingkatkan terus jadi Rp9,5 miliar, selanjutnya naik lagi Rp10 miliar, Rp10,5 miliar, Rp11 miliar, dan di akhir masa jabatan Rp12 miliar,” kata Lestariana.
Untuk mencapai target tersebut, peningkatan pendapatan dan laba perusahaan akan dibarengi dengan upaya menekan tingkat kehilangan air. Saat ini, NRW Perumda Tirta Hita Buleleng berada di kisaran 21 persen, turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar 23 persen.
Lestariana menargetkan tingkat kehilangan air tersebut dapat kembali ditekan hingga berada pada kisaran 15 persen sampai 17,5 persen. Penurunan NRW dinilai penting karena semakin banyak air yang berhasil disalurkan dan tercatat sebagai penjualan, semakin besar pula potensi pendapatan perusahaan.
Ia menjelaskan, kehilangan air tidak hanya disebabkan kebocoran fisik pada jaringan perpipaan. Faktor administratif, termasuk air yang tidak tercatat sebagai penjualan, juga menjadi bagian dari NRW.
Untuk menekan kehilangan air, Perumda Tirta Hita Buleleng akan melakukan peremajaan jaringan pipa secara bertahap. Saat ini, total jaringan pipa transmisi dan distribusi yang dimiliki mencapai sekitar 1 juta meter. Dari panjang tersebut, sekitar 20 persen di antaranya dinilai sudah membutuhkan peremajaan.
Bahkan, masih terdapat jaringan pipa peninggalan zaman Belanda yang hingga kini masih digunakan. Kondisi jaringan yang sudah berusia tua tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya menekan kebocoran air.
“Jadi kalau sudah banyak terjadi kebocoran di jaringan pipa itu, otomatis segera harus dilakukan penggantian atau peremajaan,” ujarnya.
Namun, kebutuhan pembiayaan peremajaan jaringan menjadi tantangan tersendiri. Lestariana mengatakan pihaknya akan mencari skema pembiayaan kreatif dengan menggandeng pihak ketiga atau swasta melalui pola business-to-business (B2B).
Skema tersebut dipilih sejalan dengan kebijakan Pemkab Buleleng yang tidak ingin terlalu mengandalkan penyertaan modal daerah di tengah keterbatasan kemampuan keuangan daerah.
“Kami akan gunakan skema creative financing. Kerja sama, tapi tidak mengurangi dari profit yang diterima oleh Perumda,” kata dia. (Yudha/balipost)










