
DENPASAR, BALIPOST.com – Perekonomian Bali sepanjang 2026 masih menunjukkan kinerja positif dan relatif kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan II-2026, ekonomi Bali tumbuh 5,78 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I sebesar 5,58 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat, secara triwulanan ekonomi Bali pada triwulan II-2026 bahkan tumbuh 6,91 persen dibandingkan triwulan I-2026. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp47,34 triliun.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, struktur ekonomi Bali masih menunjukkan ketergantungan kuat terhadap sektor pariwisata. Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 51,14 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, pertumbuhan pada triwulan II-2026 didorong oleh hampir seluruh lapangan usaha, kecuali transportasi dan pergudangan. Pengadaan listrik tumbuh paling tinggi sebesar 15,98 persen yoy, disusul administrasi pemerintahan sebesar 14,31 persen dan Konstruksi sebesar 8,40 persen.
Pertumbuhan konstruksi yang meningkat dari 5,03 persen pada triwulan I menjadi 8,40 persen pada triwulan II menunjukkan mulai kuatnya peran investasi dan pembangunan dalam menopang ekonomi Bali. Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 9,81 persen yoy, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 14,90 persen.
Konsumsi rumah tangga juga tetap tumbuh tinggi sebesar 5,48 persen yoy. BI menilai kondisi tersebut didukung aktivitas masyarakat pada momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan, libur sekolah, serta pelaksanaan Pesta Kesenian Bali.
Penguatan ekonomi tersebut turut tercermin dari optimisme pelaku usaha. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI Bali terhadap 130 pelaku usaha menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada triwulan II-2026 mencapai 49,32 persen, melonjak dari 16,05 persen pada triwulan sebelumnya.
Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pembalikan kinerja paling kuat, dengan SBT meningkat dari minus 8,32 persen menjadi 14,62 persen. Sektor konstruksi juga berbalik dari minus 2,22 persen menjadi positif 6,66 persen.
Menurut BI Bali, peningkatan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan pembangunan akomodasi wisata. Data BPS menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali meningkat 18,41 persen secara kuartalan pada triwulan II-2026, dari sekitar 1,46 juta menjadi 1,73 juta kunjungan.
Memasuki triwulan III-2026, BI memperkirakan ekonomi Bali tetap tumbuh tinggi. Periode peak season pariwisata, terutama meningkatnya kunjungan wisatawan asal Australia, diperkirakan menjadi salah satu motor pertumbuhan. Aktivitas konstruksi proyek strategis pemerintah maupun swasta serta daya beli masyarakat yang masih terjaga juga menjadi penopang.
Meski demikian, BI mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Ketidakpastian dan gejolak ekonomi global serta potensi El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau panjang berpotensi menahan pertumbuhan, terutama melalui dampaknya terhadap sektor pertanian dan harga pangan.
Di tengah pertumbuhan yang masih positif, BI Bali menilai ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata tetap menjadi tantangan struktural. Karena itu, penguatan sumber pertumbuhan baru menjadi penting agar ekonomi Bali tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal yang memengaruhi sektor pariwisata.
BI mendorong penguatan UMKM, ekonomi kreatif, pertanian, kelautan dan perikanan, serta industri pengolahan berbasis sumber daya lokal. Transformasi UMKM tidak hanya diarahkan pada akses pembiayaan, tetapi juga peningkatan kapasitas, kelembagaan, dan pemanfaatan teknologi digital.
Dari sisi pembiayaan, kondisi sektor jasa keuangan juga masih mendukung ekspansi ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat kredit berdasarkan lokasi bank hingga April 2026 mencapai Rp121 triliun atau tumbuh 6,41 persen yoy. Berdasarkan lokasi proyek, kredit mencapai Rp147,64 triliun atau tumbuh 9,14 persen.
Kredit investasi bahkan tumbuh 16,82 persen yoy, menunjukkan dukungan perbankan terhadap ekspansi usaha dan pembiayaan jangka panjang. Sementara itu, 51,26 persen total kredit disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan 5,23 persen yoy.
Pertumbuhan ekonomi juga diikuti perbaikan pasar tenaga kerja. BPS mencatat jumlah angkatan kerja Bali pada Mei 2026 mencapai 2,70 juta orang, meningkat 37,70 ribu orang dibandingkan Februari. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik menjadi 75,52 persen.
Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 2,66 juta orang, bertambah 39,05 ribu orang. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan terbesar berasal dari sektor Akomodasi dan Makan Minum. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 1,52 persen.
Namun, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 masih tercatat 162,01 ribu orang atau 3,44 persen dari total penduduk. Angka tersebut turun dibandingkan Maret 2025, tetapi sedikit meningkat dibandingkan September 2025.
Di sektor perdagangan luar negeri, ekspor barang Bali pada Juni 2026 mencapai US$43,96 juta, tumbuh 9,17 persen yoy. Namun secara kumulatif Januari-Juni 2026, ekspor masih turun 0,88 persen menjadi US$280,51 juta. Sebaliknya, impor kumulatif meningkat 9,71 persen menjadi US$73,28 juta.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Bali mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai sekitar 420 ribu pada pertengahan 2026. BEI Bali menargetkan pertumbuhan investor tetap di atas 20 persen sepanjang tahun, dengan lebih dari separuh investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Rangkaian indikator tersebut menunjukkan ekonomi Bali pada 2026 masih memiliki fondasi pertumbuhan yang cukup kuat, ditopang pariwisata, konsumsi, investasi, konstruksi, pembiayaan perbankan, serta meningkatnya aktivitas dunia usaha.
Namun, tantangan Bali bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan tetap tinggi. Pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin beragam dan berkualitas sehingga tidak terlalu bergantung pada pariwisata, sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal, dan menjaga daya tahan Bali terhadap gejolak global. (Suardika/balipost)










