Arsip foto - Petugas kesehatan memasukan cairan vaksin PCV ke dalam spet suntik saat pembarian vaksin kepada balita di pos pelayanan terpadu di Kecamatan Baruga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (12/1/2023). (BP/Dokumen Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali memperkuat deteksi dan pencatatan kasus pneumonia pada balita menyusul masih terbatasnya pelaporan melalui sistem National All Record (NAR). Hingga Juli 2026, tercatat 5.318 kasus pneumonia balita di Bali.

Angka tersebut setara sekitar 3,4 persen dari estimasi keseluruhan kasus pneumonia pada balita di Bali yang diperkirakan mencapai 156.819 kasus. Sementara itu, jumlah tersebut juga sama dengan target penemuan kasus pneumonia balita yang ditetapkan untuk Bali sepanjang 2026, yakni 5.318 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes., mengatakan pneumonia menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian karena rentan menyerang kelompok balita.

“Dari target penemuan sebanyak 5.318 kasus itu, yang sudah tercatat baru sekitar 3 persen,” ujar Raka Susanti, Rabu (12/8).

Raka menjelaskan, angka sekitar 3 persen tersebut mengacu pada perbandingan kasus yang telah ditemukan dengan estimasi kasus pneumonia balita secara keseluruhan, bukan terhadap target penemuan 5.318 kasus.

Jumlah sasaran balita di Bali mencapai 313.638 anak. Berdasarkan perhitungan Kementerian Kesehatan, estimasi kasus pneumonia pada kelompok tersebut mencapai sekitar 156.819 kasus. Dengan demikian, 5.318 kasus yang tercatat hingga Juli masih menunjukkan sebagian kecil dari estimasi beban kasus pneumonia pada balita.

Menurut Raka, rendahnya penemuan dibandingkan estimasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa jumlah penderita pneumonia di Bali sedikit. Kondisi tersebut juga dipengaruhi mekanisme pencatatan dan pelaporan melalui NAR yang baru mulai diterapkan tahun ini.

Baca juga:  Ratusan Orang Terjangkit Campak di Bali pada 2025, Kabupaten Ini Tertinggi Kasusnya

Sosialisasi penggunaan NAR kepada fasilitas pelayanan kesehatan, kata dia, mulai dilakukan pada Maret 2026. Seluruh rumah sakit kini diwajibkan melakukan pelaporan kasus pneumonia melalui sistem tersebut.

“Angka ini masih sangat dipengaruhi proses pencatatan dan pelaporan yang baru diterapkan tahun ini,” katanya.

Karena NAR masih tergolong sistem baru, fasilitas kesehatan membutuhkan waktu untuk menyiapkan sumber daya manusia serta menyesuaikan mekanisme penginputan data. Dinkes Bali pun masih menunggu perkembangan pelaporan hingga akhir tahun untuk memperoleh gambaran kasus yang lebih lengkap.

Berdasarkan data Dinkes Provinsi Bali hingga Juli 2026, Kota Denpasar mencatat jumlah kasus pneumonia balita terbanyak, yakni 1.260 kasus. Angka tersebut dibandingkan dengan estimasi 5.281 kasus sehingga cakupan penemuannya tercatat 24 persen.

Kabupaten Tabanan berada di urutan berikutnya dengan 1.188 kasus dari estimasi 2.988 kasus atau cakupan 40 persen. Badung mencatat 969 kasus dari estimasi 3.928 kasus atau 25 persen.

Selanjutnya, Jembrana mencatat 686 kasus dari estimasi 2.367 kasus atau 29 persen. Buleleng sebanyak 663 kasus dari estimasi 5.593 kasus dengan cakupan 12 persen.

Klungkung melaporkan 285 kasus dari estimasi 119 kasus. Angka tersebut membuat cakupan penemuan mencapai 239 persen dan menjadi yang tertinggi di Bali berdasarkan data tersebut.

Sementara itu, Karangasem mencatat 146 kasus dari estimasi 1.981 kasus atau 7 persen. Gianyar sebanyak 91 kasus dari estimasi 2.260 kasus atau 4 persen, sedangkan Bangli 30 kasus dari estimasi 474 kasus atau 6 persen.

Baca juga:  Di Denpasar Jumlah Penderita ISPA Capai 2.613 Kasus

Jika dijumlahkan, laporan dari sembilan kabupaten/kota tersebut mencapai 5.318 kasus.

Raka mengingatkan, perbedaan angka antarwilayah belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa daerah dengan kasus lebih tinggi otomatis memiliki faktor risiko lingkungan yang lebih tinggi.

“Data ini masih sangat bergantung pada pelaporan fasilitas kesehatan. Selain itu juga dipengaruhi mobilitas penduduk. Jadi belum bisa disimpulkan daerah yang kasusnya tinggi berarti karena polusinya tinggi. Itu perlu penelitian lebih lanjut,” jelasnya.

Raka menjelaskan pneumonia berbeda dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, dan demam.

Sementara pneumonia merupakan infeksi yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

“Kalau sudah sesak berarti infeksinya sudah masuk ke paru-paru, itu sudah pneumonia. Karena itu harus segera mendapatkan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Penyebab pneumonia beragam, mulai dari virus dan bakteri hingga faktor lingkungan. Paparan polusi udara dan asap rokok dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, sementara kondisi gizi turut memengaruhi daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.

Meski demikian, Dinkes Bali belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara tingginya kasus pneumonia di suatu daerah dengan kondisi lingkungan, seperti pembakaran sampah atau tingkat polusi.

“Data ini masih sangat bergantung pada pelaporan fasilitas kesehatan. Selain itu juga dipengaruhi mobilitas penduduk. Jadi belum bisa disimpulkan daerah yang kasusnya tinggi berarti karena polusinya tinggi. Itu perlu penelitian lebih lanjut,” tegasnya.

Berdasarkan laporan yang diterima Dinkes Bali, hingga saat ini belum ditemukan kasus kematian akibat pneumonia pada kelompok balita.

Baca juga:  Berburu Perhiasan Sekaligus Liburan? Ini Estimasi Dana yang Perlu Kamu Siapkan

Untuk menekan risiko pneumonia, Dinkes mengimbau orang tua memastikan imunisasi anak lengkap sesuai usia. Salah satunya vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) yang memberikan perlindungan terhadap penyakit akibat infeksi pneumokokus, termasuk pneumonia.

Selain itu, imunisasi Pentabio yang mengandung komponen Hib juga membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit akibat Haemophilus influenzae tipe b.

Pencegahan juga perlu dilakukan dengan memastikan anak memperoleh gizi seimbang, menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta menjauhkan anak dari paparan asap rokok.

“Imunisasi harus lengkap sesuai umur, kemudian gizinya harus baik, dan anak jangan sampai terpapar asap rokok. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap risiko pneumonia pada balita,” katanya.

Di sisi lain, ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang banyak dilaporkan melalui puskesmas di Bali. Berdasarkan rekapitulasi Juli 2026, kasus ISPA di Bali mencapai 32.699 kasus.

Denpasar menjadi daerah dengan laporan ISPA terbanyak, yakni 5.699 kasus. Disusul Badung 5.382 kasus, Tabanan 4.438 kasus, Gianyar 3.850 kasus, Karangasem 3.115 kasus, Jembrana 3.043 kasus, Klungkung 1.999 kasus, dan Bangli 286 kasus.

Dinkes mengimbau masyarakat tidak menunda membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala infeksi saluran pernapasan, terlebih bila disertai sesak napas.

“Kalau anak mengalami batuk, pilek, demam, apalagi sampai sesak, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Semakin cepat ditangani, semakin baik untuk mencegah komplikasi,” pungkas Raka. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN