Petugas melakukan pengasapan (fogging) di salah satu permukiman di wilayah Kota Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali menunjukkan penurunan signifikan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat sebanyak 1.588 kasus DBD pada periode tersebut.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 9.116 kasus.

Jika dibandingkan secara tahunan, penurunan tersebut mencapai sekitar 82,6 persen. Kondisi ini menjadi sinyal positif dalam pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut, meskipun kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan, terutama ketika terjadi perubahan pola cuaca.

Penurunan juga terlihat pada angka kematian. Sepanjang 2025 tercatat 13 kasus kematian akibat DBD, sedangkan hingga pertengahan 2026 terdapat dua kasus kematian.

Kedua kasus tersebut terjadi di Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar.

Korban di Buleleng merupakan seorang balita yang meninggal pada Maret 2026, ketika kondisi masih berada pada periode musim hujan dan kasus DBD cenderung meningkat. Sementara korban di Denpasar merupakan kelompok usia dewasa muda, yakni berusia di bawah 30 tahun.

Baca juga:  Masyarakat Denpasar Diminta Waspadai DBD

Kedua pasien tersebut diketahui memiliki kondisi penyerta atau komorbid. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasien DBD, selain kecepatan deteksi dan pemberian pelayanan medis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan penurunan kasus mulai terlihat seiring peralihan kondisi cuaca dari musim hujan menuju musim kemarau.

“Jadi sampai di Juli itu kalau kita lihat memang ada penurunan kasus. Kalau kita lihat dari memang sekarang itu musim panas dibanding dengan Januari-Februari, jadi memang signifikan,” ujar Raka Susanti, Selasa (11/8).

Menurutnya, faktor cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kasus DBD. Namun, penurunan kasus tidak semata-mata disebabkan perubahan musim. Upaya pencegahan dan pengendalian yang dilakukan secara berkelanjutan juga turut berkontribusi.

Baca juga:  Terkait UU Cipta Kerja, Anggota SPSI Bali Diminta Tidak Terprovokasi

Dinkes Bali terus mendorong masyarakat menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Pengendalian juga diperkuat dengan keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dukungan tersebut antara lain digunakan untuk melatih dan mengerahkan petugas Juru Pemantau Jentik (Jumantik), terutama di wilayah yang memiliki kerawanan kasus seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar.

Keberadaan Jumantik dinilai penting untuk mendeteksi keberadaan jentik nyamuk sejak dini sekaligus mendorong masyarakat lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Selain pengendalian berbasis lingkungan, Dinkes Bali juga memanfaatkan pendekatan berbasis data dan teknologi. Salah satunya melalui aplikasi DB Klim yang dikembangkan dan dimanfaatkan bersama Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar selama sekitar dua tahun terakhir.

Baca juga:  Hingga Semester I 2021, Masih Ada Seratusan Ribu WNA di Bali

Pemanfaatan aplikasi tersebut diarahkan untuk membantu memetakan wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan risiko DBD dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan cuaca. Dengan pemetaan tersebut, langkah pencegahan diharapkan dapat dilakukan lebih dini sebelum terjadi lonjakan kasus.

Raka Susanti mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala demam, terutama pada anak-anak dan balita. Pada kelompok usia tersebut, gejala awal terkadang sulit dikenali karena anak belum mampu menyampaikan keluhan secara jelas.

“Kalau anak-anak itu biasanya kalau balita kan dia tidak bisa mengeluh. Jadi kalau sudah demam, harapannya tentu lebih baik langsung dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN