Warga Banjar Pendem, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana kini terpaksa memanfaatkan air kubangan di tengah lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (BP/Istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Warga Banjar Pendem, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana kini terpaksa memanfaatkan air kubangan di tengah lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak dan minum.

Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari sepekan. Sumber mata air dari kawasan pegunungan yang selama ini dialirkan ke rumah-rumah warga menggunakan pipa mulai mengering akibat kemarau.

Warga pun kesulitan mendapatkan air bersih. Jangankan untuk kebutuhan minum, untuk mandi dan mencuci pakaian saja mereka harus mencari sumber air alternatif.

Salah satunya dilakukan warga Banjar Pendem, Desa Manistutu. Mereka harus berjalan kaki lebih dari dua kilometer untuk mengambil air dari sebuah kubangan yang berada di tengah lahan pertanian.

Baca juga:  Kodam IX Gelar Donor Darah, Ratusan Orang Partisipasi

Air kubangan yang terlihat keruh tersebut kemudian diangkut menggunakan galon, jeriken, maupun timba untuk dibawa pulang. Air itu digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk memasak dan minum setelah terlebih dahulu dimasak.

Kubangan tersebut juga menjadi tempat warga mandi dan mencuci pakaian. Kondisi ini terpaksa dilakukan lantaran sumber air sungai di sekitar permukiman warga juga mulai mengering.

Salah seorang warga Banjar Pendem, Desa Manistutu, Biang Kadek Wiring, Selasa (11/8) mengatakan dirinya harus berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk mendapatkan air.

Baca juga:  Karena Ini, Tempat Hiburan Malam Diminta Perpendek Jam Operasional

Dalam sehari, ia bahkan harus mengambil air pada pagi dan sore hari. “Saya jalan dua kilo, tiap hari pagi sore. Airnya untuk mandi, mencuci, masak, minum tapi harus dimasak dulu. Ini krisis air sudah ada semingguan. Saya jalan kaki ke sini karena tidak punya sepeda,” ujar Biang Kadek Wiring.

Hal senada disampaikan warga Banjar Benel, Desa Manistutu, Ni Komang Suniti. Menurutnya, krisis air terjadi setelah sumber air dari pegunungan tidak lagi mengalir akibat kekeringan.

Baca juga:  Lebih Banyak Dibanding Sehari Sebelumnya, Tambahan Kasus COVID-19 Harian di Bali

“Sudah seminggu tidak ada air, karena air gunung macet karena kekeringan. Air ini untuk mandi, mencuci, minum dan lainnya,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga harus bolak-balik dari rumah menuju kubangan tersebut. Bahkan, dalam sehari mereka bisa beberapa kali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki demi mendapatkan air untuk kebutuhan keluarga.

Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih selama musim kemarau masih berlangsung. (Witari/denpost)

BAGIKAN