
BANGLI, BALIPOST.com – Tingginya populasi lalat di kawasan Kintamani mendapat perhatian serius dari Pakar Lingkungan, Prof. Ni Luh Kartini. Menurutnya banyaknya populasi lalat di Kintamani dipicu oleh kelembapan udara yang tinggi serta kebiasaan penggunaan pupuk organik yang belum difermentasi.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Nasional 100 Tahun Rarud Batur bertajuk “Citra Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Peluang Masa Depan” yang digelar di Kintamani belum lama ini. Prof. Kartini menyebut bahwa lonjakan populasi lalat kini menjadi salah satu ancaman lingkungan yang harus segera ditangani secara serius.
Menurutnya, pupuk organik yang belum difermentasi mengeluarkan bau menyengat yang sangat disukai lalat untuk bertelur sehingga memicu lonjakan populasi yang sangat cepat. “Pupuk yang digunakan harus terfermentasi. Itu ada aturannya,” jelasnya.
Untuk mengatasi ancaman lalat, Prof. Kartini mendorong pemerintah daerah agar proaktif memfasilitasi tempat fermentasi pupuk. Setiap desa diharapkan agar mengoptimalkan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Ia mengingatkan bahwa Bali sebenarnya sudah memiliki regulasi pengelolaan sampah berbasis sumber yang sangat baik, di mana sampah organik seharusnya tuntas dikelola di tingkat lokal dan hanya sampah residu yang dibuang ke TPA.
Ia juga menyayangkan potensi besar sampah organik di Bali yang mencapai 65 hingga 90 persen setiap harinya namun belum terkelola optimal. Padahal, menurutnya jika diolah dengan benar, sampah organik tersebut dapat bernilai ekonomi tinggi sebagai pupuk. “Saya ikut menyusun Pergub-nya, tapi belum bisa jalan sampai sekarang,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong setiap desa, kelompok tani, hingga tingkat rumah tangga di Kintamani untuk mengolah dan memfermentasi sampah menjadi pupuk guna memutus siklus perkembangbiakan lalat. “Sebelum diberikan ke tanaman difermentasi terlebih dahulu. Tidak susah. Mudah sekali,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










