
SINGARAJA, BALIPOST.com – Rasa sakit tak mampu menghentikan langkah Komang Aris Sedana Arta (12). Siswa kelas VI SDN 1 Sari Mekar itu memilih menahan nyeri pada kaki kirinya yang bengkak demi satu tujuan, mengantarkan regunya menyelesaikan lomba gerak jalan 8 kilometer tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Buleleng, Selasa (4/8).
Di bawah teriknya matahari yang menyengat aspal Kota Singaraja, Aris rela menempuh sekitar 7 kilometer tanpa sepatu. Dengan kaki kiri hanya berbalut kaus kaki, ia terus melangkah hingga menuntaskan perlombaan bersama rekan-rekannya.
Peristiwa itu bermula saat regunya melintasi Jalan Ponogoro. Sepatu Aris tanpa sengaja terinjak teman satu regu hingga terlepas. Kondisi tersebut membuat telapak kakinya langsung bersentuhan dengan aspal yang panas. Meski sempat merasakan sakit hingga kakinya membengkak, Aris memilih tetap berada di dalam barisan.
Baginya, keluar dari formasi bukanlah pilihan karena dapat membuat regunya didiskualifikasi. “Jangan diributin, jalan saja. Biarin saja,” ujar Aris singkat mengenang momen tersebut.
Ternyata Aris bukan satu-satunya yang kehilangan sepatu. Tiga rekannya, yakni Kadek Gita Yusena, Kadek Cantika Merta Dewi, dan Putu Agus Aditya, juga mengalami hal serupa. Keempat siswa kelas VI itu memilih tetap bertahan demi menjaga kekompakan regu hingga mencapai garis finis.
Guru PJOK SDN 1 Sari Mekar, Ketut Catur Mahaputra, mengatakan regunya beranggotakan 17 peserta inti dan 4 peserta cadangan. Namun, pergantian peserta tidak dapat dilakukan karena berpotensi membuat regu didiskualifikasi.
“Sepatu anak-anak terlepas di beberapa titik, mulai dari Jalan Ponogoro, Jalan Gajah Mada, Titik Nol Singaraja hingga Banyuasri. Meski begitu, mereka tetap bertahan dan mampu menyelesaikan lomba dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 35 menit,” jelasnya.
Kepala SDN 1 Sari Mekar, Nyoman Satriarta, mengaku sempat diliputi rasa cemas saat mengetahui beberapa siswanya kehilangan sepatu di tengah perlombaan. Ia khawatir kondisi itu membuat anak-anak keluar dari barisan dan berujung didiskualifikasi.
“Awalnya saya waswas. Tetapi mereka memilih bertahan sampai finis. Semangat juang anak-anak luar biasa,” ujarnya.
Menurut Satriarta, sekolah tidak pernah menjadikan kemenangan sebagai target utama. Di tengah ketatnya persaingan yang diikuti 123 regu SD, keikutsertaan anak-anak lebih dimaknai sebagai bentuk partisipasi dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme sejak dini.
“Pesertanya sangat banyak. Yang terpenting bagi kami adalah ikut berpartisipasi dan menanamkan semangat nasionalisme kepada anak-anak. Juara bukan tujuan utama,” tegasnya. (Yudha/balipost)










