Seminar Nasional 100 Tahun Rarud Batur bertajuk "Citra Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Peluang Masa Depan" yang digelar di Kintamani, Minggu (3/8). (BP/Ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Kondisi Danau Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, berada di titik nadir. Selain mengalami penurunan kualitas air yang signifikan, kedalaman danau terbesar di Bali ini menyusut drastis hingga hampir 50 persen. Fakta memprihatinkan tersebut terungkap dalam Seminar Nasional 100 Tahun Rarud Batur bertajuk “Citra Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Peluang Masa Depan” yang digelar di Kintamani, Minggu (3/8).

Pakar Lingkungan sekaligus Ketua Forum Danau Nusantara, Prof Ni Luh Kartini, mengungkapkan kedalaman Danau Batur dulunya mencapai 120 meter. Namun saat ini, kedalamannya tersisa sekitar 64 hingga 80 meter. “Berarti hampir 50 persen menurun. Apa penyebabnya ? Kembali lagi pada permasalahan lingkungan di sekitarnya,” ujar Prof. Kartini.

Baca juga:  Terima Hibah Tanah dari Pusat, Pemkot Denpasar Akan Manfaatkan untuk Fasum

Tak hanya kedalamannya yang menyusut, kualitas air Danau Batur juga merosot tajam. Air danau Batur yang seharusnya berkualitas air minum, kini merosot ke Kelas 3 atau hanya layak untuk perairan pertanian dan perikanan.

Dalam seminar itu, Prof. Kartini juga menyoroti soal fenomena upwelling yang terjadi setiap tahun di Danau Batur. Menurutnya kondisi itu dipicu suburnya air danau akibat tingginya sisa pupuk pertanian yang masuk ke danau. Saat terjadi upwelling karena perbedaan suhu, oksigen dalam air akan diambil oleh sulfur dan hal itu memicu kematian ikan secara massal. “Ini terjadi setiap tahun, artinya beban danau semakin tinggi,” ujarnya.

Ancaman kelestarian Danau Batur kian diperparah oleh invasi spesies ikan Red Devil. Saat ini, ikan predator tersebut dikabarkan telah menguasai hingga 80 persen populasi di perairan Danau Batur dan menggeser keberadaan spesies ikan lokal. Menurutnya hal itu hanya bisa ditangani dengan menangkap ikan tersebut. “Ini harus ditangani secepatnya sebelum kita kehilangan semua,”terangnya.

Baca juga:  Aparat Desa Diminta Waspadai Informasi Negatif di Medsos

Guru besar Universitas Udayana itu mengingatkan bahwa Danau Batur merupakan danau cekaman terkungkung. Seharusnya tidak boleh ada aktifitas apapun di dalam danau. Terlebih, Danau Batur menjadi jantung air dan penopang sistem subak di Bali. Jika danau ini rusak total, seluruh Bali akan menghadapi krisis air parah

Dalam menghadapi kondisi danau Batur saat ini, Prof. Kartini mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkrit. Salah satunya penegakan aturan secara konsisten.

Baca juga:  PDIP Umumkan 75 Paslon Pilkada Serentak, Ini Kata Hasto Soal Bali

“Menjaga Danau Batur bukan hanya tanggung jawab desa di sekitarnya. Desa-desa itu bukan memiliki, hanya memanfaatkan. Tugas pengelolaan ada di pemerintah. Semua sudah ada aturannya tapi aturan itu tidak ada yang menjalankan,” jelasnya.

Langkah penyelamatan sangat diperlukan segera. Jangan sampai terlambat. “Kalau danau sampai hilang kita akan miskin. Mari sama-sama jaga Bali,” tegasnya.

Seminar nasional tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Dirjen bimas Hindu Kemenag RI Prof I Nengah Duija, guru besar Unud/sejarawan Prof. I Ketut Ardhana, ketua Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia STJ Budi Santoso, dan Jero Penyarikan Duuran Batur, akademisi/peneliti Lontar. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN