Seorang pedagang sedang menyiapkan pesanan pelanggan di Unit Pasar Kapal, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pendapatan Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar masih di bawah target. Tercatat realisasi pendapatan pada priode Januari-Juni 2026 sebesar Rp26,8 miliar. Sementara target pendapatan hingga pertengahan tahun tersebut sebesar Rp30 miliar.

Berdasarkan data yang diberikan, dari 16 pasar yang ada di bawah naungan Perumda Pasar Sewakadarma, hanya 1 pasar yakni Kumbasari siang yang pendapatannya melampui target. Tercatat realisasi pendapatan di Pasar Kumbasari sebesar Rp1,866 miliar hingga Juni.

Sementara target pendapatan Rp1,864 miliar. Realisasi tersebut tercapai sebesar 100,1 persen atau lebih tinggi Rp1,9 juta dari target.

Sementara itu, realisasi yang paling jauh dari target yakni unit usaha Pasar Badung Siang. Pendapatan di Pasar Badung siang hanya terealisasi 77,2 persen.

Baca juga:  Optimalkan Pendapatan Pariwisata, DPRD Usul Konsep "One Gate"

Adapun realisasi pendaparan di Pasar Badung Siang yakni Rp3,8 miliar. Sementara pendapatan ditargetkan Rp4,9 miliar.

Selain Pasar Badung, masih jauhnya realisasi pendapatan juga nampak pada unit parkir. Tercatat ada kekurangan hingga Rp1,5 miliar dari target pada unit parkir ini. Realisasi pendapatan pada unit parkir tercatat Rp8,6 miliar. Sementara targetnya Rp10,1 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar I Kadek Hendarto saat dikonfirmasi, Jumat (31/7) mengatakan, belum tercapainya target ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama untuk di Pasar Badung tunggakan pembayaran sewa atupun BOP cukup berpengaruh pada realisasi pendapatan. Tunggakan di Pasar Badung ini mencapai Rp4,4 miliar yang tercatat sejak 2018 hingga Juni 2026.

Baca juga:  Kemenhub Targetkan Angka Lakalantas Turun Hingga 80 Persen

Kondisi pasar yang sepi khususnya di lantai 3 dan 4 sangat berpengaruh pada tunggakan serta pendapatan pasar. Selain itu adanya pedagang yang sudah berjualan di Pasar Lokitasari dan masih memiliki tempat di Pasar Badung juga terkendala membayar iuran. “Dan mereka belum iklas mengembalikan tempat. Jadi berat membayar operasional,” kata Hendarto.

Selain itu, adanya pengembalian tempat berjualan juga mempengaruhi pendapatan Perumda Pasar. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Pasar Badung, melainkan terjadi juga di pasar-pasar lainnya.

Satu persoalan juga terjadi yang mempengaruhi pendapatan hingga akhir Juni yakni adanya eror sistem di Pasar Lokitasari. “Kami saat ini kan semua pembayaran lewat online. Di Pasar Lokitasari itu pembayaran semua di akhir bulan. Dan pada akhir Juni sistem sempat terganggu yang pembayaran belum bisa dilakukan. Tapi awal Juli pembayaran sudah masuk semua,” terangnya.

Baca juga:  Semester I 2018, Pendapatan Layanan Data XL Naik 19 Persen

Di sisi lain Hendarto menyebutkan, ada perubahan target pendapatan pada APBD Perubahan nanti. Yakni dari Rp5 miliar per bulan pada APBD Induk menjadi Rp4,9 miliar pada APBD Perubahan. Kondisi tersebut menyesuaikan dengan adanya pengembalian tempat berjualan dan pengurangan parkir setelah dilakukan uji petik di pasar-pasar. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN