Ilustrasi uang. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Kabupaten Bangli tahun ini mendapatkan alokasi bantuan pemeliharaan jaringan irigasi tersier sebanyak 25 titik dari pemerintah pusat. Nilai bantuan yang dikucurkan untuk tiap titik Rp100 juta dan seluruhnya dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani setempat.

Kabid Sarana, Prasarana, dan Pemasaran Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli Ida I Dewa Ayu Mas Mahyuni, menyampaikan bahwa saat ini pengerjaan bantuan pemeliharaan irigasi tersier tersebut sedang berjalan secara bertahap. Tahap 1 sebanyak 10 unit, pengerjaannya sudah mencapai sekitar 98 persen. Sementara tahap 2 sebanyak 12 unit, segera dikerjakan menyusul telah terbitnya surat perintah pencairan dana (SP2D). “Sedangkan 3 titik sisanya baru kami kirimkan berkasnya,” ungkapnya, Kamis (30/7).

Baca juga:  Antisipasi Potensi Krisis Pangan, Bali Siapkan Empat Program Prioritas

Mas Mahyuni menjelaskan Bangli sebenarnya semula hanya mendapatkan alokasi di 22 titik. Namun, Bangli memperoleh tambahan 3 titik lagi karena ada kabupaten lain yang tidak mampu memenuhi target pengerjaan dari pusat.

Disampaikan bahwa proses pengusulan bantuan ini berdasar kebutuhan dari bawah. Subak dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dituntut bergerak cepat menyusun kelengkapan data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) agar kuota bantuan yang disediakan pusat tidak hangus akibat melewati batas waktu yang ditentukan.

Baca juga:  Bupati Badung Undang Artis Australia Buat Video Klip di Destinasi Wisata

Pada tahun ini pemerintah kabupaten Bangli tidak ada mengalokasikan anggaran pemeliharaan jaringan irigasi dari APBD. Mengenai pengusulan bantuan berikutnya untuk tahun 2027 baru akan disisir kembali setelah program Inpres 02 berjalan, guna menyasar irigasi yang belum tersentuh pemeliharaan.

Disinggung terkait kondisi jaringan irigasi secara keseluruhan di Bangli, dikatakan Mas Mahyuni kondisinya sangat dinamis. Topografi lahan pertanian di Kabupaten Bangli yang sebagian besar berada di daerah curam dan tepi jurang, membuat jaringan irigasi sangat rawan tertimpa bencana tanah longsor yang berujung pada penundaan masa tanam para petani. “Seperti di kecamatan susut banyak jaringan irigasi yang posisinya di pinggir jurang dan rawan terkena longsor,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Kembali Digelar, Program Coke Kicks 2018
BAGIKAN