
GIANYAR, BALIPOST.com – Sebanyak 80 guru dari 40 sekolah di Kabupaten Gianyar mengikuti pelatihan intensif serta dibekali kurikulum dan modul pengajaran interaktif lewat program Melek Literasi dan Aksi Finansial Bersama (Melari), Senin (27/7). Bertempat di SDN 1 Gianyar, program kolaboratif ini bertujuan membekali sekitar 2.000 siswa dengan pemahaman serta kecakapan mengelola keuangan secara bijak sejak dini.
Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Gianyar, I Gusti Putu Ngurah Adnyana, menegaskan bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, peserta didik tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan hidup (life skills), khususnya dalam mengelola keuangan secara cerdas dan bertanggung jawab.
Ia menyampaikan bahwa guru memegang posisi sangat strategis sebagai agen perubahan untuk menanamkan budaya menabung, menentukan prioritas kebutuhan, serta mengenali produk keuangan legal guna menghindari berbagai bentuk penipuan dan investasi ilegal.
Ditegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung pendidikan berkualitas yang mampu membentuk generasi cerdas, berkarakter, adaptif, dan bijak dalam mengambil keputusan keuangan.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Irwan, menyampaikan program CSR dari Maybank serta Prestasi Junior Indonesia (PJI) ini sangat penting dalam mengedukasi generasi muda. Irwan menekankan pentingnya sikap waspada terhadap iming-iming investasi berimbal hasil tinggi yang kerap berujung pada penipuan atau jeratan finansial di era digital.
Menurutnya, pemahaman mengenai keuangan harus ditanamkan sejak tingkat sekolah dasar karena kemudahan akses internet dan smartphone saat ini membuka peluang paparan informasi keuangan tanpa batas bagi anak-anak.
“Kerugian akibat penipuan finansial sangatlah besar dan kerap meninggalkan penyesalan di akhir, sehingga peran aktif guru dan orang tua sangat krusial dalam mendampingi peserta didik,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Bali, lrhamsyah mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Gianyar, Dinas Pendidikan, serta BI Bali atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menggarisbawahi bahwa program pelatihan bagi 80 guru di 40 sekolah Gianyar ini merupakan investasi jangka panjang yang sangat strategis.
Melalui peningkatan kapasitas guru dan pembelajaran berbasis sekolah, para siswa diperkenalkan cara menabung serta menggunakan uang jajan secara bertanggung jawab. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan persiapan menghadapi Sensus Ekonomi masa depan, di mana generasi muda saat ini akan menjadi responden dan pelaku utama ekonomi yang literat secara finansial.
Sementara itu, Head of Sustainability Bank Maybank Indonesia, Maria Triffanny Fransiska, menyampaikan program ini merupakan bagian dari rangkaian program tanggung jawab sosial.
Nama “Melari” diserap dari bahasa Bali “melari” yang berarti berlari. Penamaan ini memiliki makna mendalam karena terdapat benang merah yang sangat kuat antara olahraga lari maraton dan pengelolaan keuangan personal.
Ditambahkan Executive Director Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, guru diharapkan menjadi agen perubahan yang menerapkan materi edukasi secara langsung di ruang kelas kepada lebih dari 2.000 siswa di wilayah Gianyar.
Dalam pemaparannya, Utami menggarisbawahi bahwa pesatnya perkembangan teknologi keuangan (financial technology) saat ini memberikan kemudahan luar biasa yang dapat diakses oleh siapa saja melalui smartphone, termasuk anak-anak dan remaja.
Namun, kemudahan tersebut membawa risiko besar jika tidak disikapi dengan kewaspadaan dan pemahaman yang tepat. Risiko seperti perilaku konsumtif berlebihan hingga jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal kini mengintai masyarakat luas.
“Tidak bisa kita pungkiri lagi, bukan hanya kita orang dewasa, tetapi anak muda juga sudah mulai terpapar dengan digitalisasi. Financial digital itu sangat mudah sekali diakses. Hal-hal ini yang perlu kita antisipasi dan waspadai bersama,” ujar Utami.
Modul yang disusun untuk para guru, diutarakannya, tidak akan berdampak tanpa adanya wujud nyata di kelas. Dari kelas-kelas inilah, dampak positif diharapkan meluas ke lingkungan sekolah, hingga anak-anak bertindak sebagai “duta literasi” yang mengingatkan orang tua mereka untuk berbelanja secara bijak di rumah. (Wirnaya/balipost)










