Tim Dinsos P3A Bali saat turun ke keluarga korban, Minggu (26/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali memastikan tidak hanya menangani dampak hukum dari kasus tewasnya KD, warga Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, akibat dihakimi massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pemprov juga memberikan perhatian terhadap masa depan anak-anak korban.

Melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali, pemerintah telah melakukan asesmen langsung terhadap keluarga korban sekaligus menyiapkan berbagai bentuk pendampingan sosial, pendidikan, hingga psikologis.

Kepala Dinsos P3A Provinsi Bali, dr. Anak Agung Sagung Mas Dwipayani, M.Kes., mengatakan tim dari Panti Anak Udyana Wiguna Pemerintah Provinsi Bali bersama Dinsos P3A Kabupaten Buleleng, Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng, anggota DPRD Buleleng, serta Pemerintah Desa Sidatapa telah mengunjungi rumah keluarga korban.

Baca juga:  150 Koperasi di Bali Terancam Dibubarkan

“Kami diterima oleh ibu korban, anak-anak almarhum, dan kakeknya. Kami datang untuk melakukan asesmen sekaligus memastikan kondisi keluarga dan kebutuhan anak-anak yang ditinggalkan,” ujar Sagung, Minggu (26/7).

Hasil asesmen awal menunjukkan keluarga korban sebelumnya telah menerima bantuan sosial karena masuk dalam kategori desil 2. Selain itu, Pemprov Bali menawarkan sejumlah alternatif untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak korban.

Di antaranya, kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat maupun tinggal di Panti Anak Udyana Wiguna milik Pemerintah Provinsi Bali di Kabupaten Buleleng.

Namun demikian, keluarga belum bersedia mengambil keputusan terkait tawaran tersebut. Menurut Sagung, keluarga masih menjalani masa berkabung sesuai tradisi dan keyakinan yang dianut.

Baca juga:  Dari Oknum Dokter Puskesmas Selbar Ditangkap hingga Penglipuran Tutup Setengah Hari

“Keluarga tidak ingin mengambil keputusan apa pun sebelum 42 hari masa kedukaan selesai karena sesuai kepercayaan mereka, selama masa itu tidak boleh diganggu,” jelasnya.

Selama kunjungan, Pemprov Bali bersama Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako dan kebutuhan pokok lainnya untuk meringankan beban keluarga.

Selain bantuan sosial, pemerintah juga memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis anak-anak korban. Tim psikolog dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Bali bersama UPTD PPA Kabupaten Buleleng dijadwalkan kembali mendatangi keluarga untuk memberikan layanan trauma healing.

Baca juga:  Terima 102 Pengaduan Sepanjang 2023, Pengelolaan SP4N Lapor Pemprov Bali Diapresiasi

“Anak-anak akan kembali dikunjungi untuk pendampingan psikologi agar dampak trauma akibat peristiwa ini dapat diminimalkan,” kata Sagung.

Ia mengakui pada awal kunjungan keluarga masih menutup diri. Namun berkat pendampingan Kepala Desa Sidetapa, komunikasi secara bertahap mulai terjalin sehingga tim dapat menggali kondisi keluarga serta kebutuhan anak-anak korban.

Seperti diberitakan sebelumnya, KD meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7) sekitar pukul 01.30 WITA. Korban diduga tertangkap tangan saat hendak mencuri ayam aduan milik warga. Massa yang emosi juga membakar sepeda motor korban. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN