
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pengabenan maestro dongeng, Made Taro berlangsung pada Minggu (26/7) di Krematorium Punduk Dawa, Dawan, Klungkung. Ratusan pelayat tampak mengantarkan almarhum menuju peristirahatan terakhir.
Sebelum diaben, jenazah sempat dititipkan di Rumah Duka Darma Yadnya, Denpasar selama dua hari. Silih berganti para kerabat, kolega dan kalangan sastrawan melayat ke rumah duka.
Yang menarik, para pelayat mendapat “warisan” berupa buku-buku karya almarhum. Buku-buku yang didominasi dongeng-dongeng dan cerita rakyat itu diberikan secara gratis kepada pelayat.
“Ini memang wasiat beliau sebelum sakit. Kepada kami beliau berpesan, agar nanti jika tutup usia, jenazah dititip dulu di rumah duka Darma Yadnya. Beliau juga meminta agar buku-bukunya diberikan kepada pelayat yang hadir sebagai kenang-kenangan dan diharapkan bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai sastrawan, khususnya penekun sastra lisan, beliau memang berkeinginan agar sastra lisan atau cerita-cerita rakyat tetap terjaga dan berkembang sesuai situasi kekinian,” papar cucu almarhum, Gede Tarmanda Aditya Pratama, ditemui di sela-sela upacara pengabenan.
Sebelumnya diberitakan, Made Taro berpulang dalam usia 87 tahun pada Kamis (23/7) dini hari. Almarhum menghembuskan napas terakhir setelah lebih dari tiga pekan menjalani perawatan di RS Bali Mandara.
Sebagaimana diketahui, dunia anak-anak begitu membius sosok Made Taro sehingga membuatnya bertahan menggeluti dunia anak sekitar 51 tahun. Dia tidak pernah lelah menulis dan menggubah cerita rakyat, menghidupkan dan menciptakan permainan tradisional serta gending rare.
Bersama Sanggar Kukuruyuk yang didirikannya, Made Taro menjaga aliran nafas peradaban Bali.
Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Made Taro mengaku lebih banyak bisa menikmati kegiatan di dunia anak-anak. Pasalnya, dalam dunia anak-anak dia banyak belajar mengenai kesederhanaan dan kejujuran. Anak-anak, kata Made Taro, begitu polos sehingga kerap kali mengungkapkan sesuatu secara terus terang.
Lebih dari lima dasawarsa menekuni dunia anak-anak, Made Taro tak pernah merasa terbebani. Justru, dia merasa hatinya begitu lapang.
Bagi almarhum, hal itu merupakan peluang baginya untuk berkreativitas dan mengerti lebih dalam tentang anak-anak.
“Sekalian saya dapat melestarikan budaya seperti permainan tradisional, cerita rakyat dan gending rare Bali. Dengan begitu, akar budaya Bali bisa kita teruskan kepada generasi seterusnya,” ungkap pendongeng kelahiran Karangasem 1939 itu, ditemui kala masih sehat.
Made Taro secara resmi mulai mendirikan Sanggar Kukuruyuk tahun 1979. Sebelumnya, ia hanya membuat kelompok kecil rumah mendongeng. Anak-anak pun dikumpulkan satu per satu hingga akhirnya ia mendapatkan sekitar delapan anak.
Selain mendongeng, almarhum Made Taro juga aktif menulis buku. Beberapa buku karyanya yakni Seni Tutur Sang Penolong (April 2022) yang berisi 14 dongeng, Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda (November 2022) dengan 10 dongeng, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng (Juli 2023) berisi 20 dongeng, Seni Tutur Dongeng Masa Kini (Oktober 2023) memuat 20 dongeng, dan Seni Tutur Bali Berkisah (Januari 2024) juga memuat 20 dongeng.
Pada April 2024, almarhum menerbitkan kembali satu buku dongengnya bertajuk Dongengku Cerminku.
Atas dedikasinya, Made Taro meraih sejumlah penghargaan di antaranya, penghargaan Adi Karya dari Ikapi (1998), Anugerah Sastra Rancage (2005), Bali Award, Anugerah Permata, Hindu Books & Readers Community, Seni Kerti Budaya dan Widya Pataka.
Bahkan, atas kesetiaannya menjaga tutur leluhur, mantan guru di SMAN 2 Denpasar itu mendapat undangan mendongeng ke luar negeri, seperti Australia, Afrika Selatan, Singapura, Thailand, dan lainnya. (Suryaningsih/denpost)









