Putu Arimbawa. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Minat masyarakat Buleleng untuk bekerja di luar negeri masih tinggi. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 567 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Buleleng tercatat berangkat ke berbagai negara melalui jalur resmi perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI).

Dari belasan negara tujuan, Turki masih menjadi magnet utama bagi PMI asal Buleleng. Tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor spa dan perhotelan membuat negara tersebut menjadi tujuan paling diminati pada tahun ini.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (Disnakertrans ESDM) Buleleng, Putu Arimbawa, Kamis (16/7), mengatakan bahwa permintaan tenaga kerja dari Turki masih sangat tinggi dibandingkan negara tujuan lainnya..”Yang paling banyak itu Turki. Kebutuhannya masih tinggi, terutama untuk spa dan perhotelan,” ujarnya.

Baca juga:  Pria Dianiaya, Alami Luka Robek Tergores Pisau

Selain Turki, PMI asal Buleleng juga banyak bekerja di Bulgaria, Italia, Rumania, Kuwait, Kroasia, Polandia, Arab Saudi, Taiwan, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, Maladewa, Jerman, Montenegro, Jepang, dan Yunani. Menurut Arimbawa, negara-negara di kawasan Eropa Timur kini mulai menjadi alternatif tujuan baru bagi PMI asal Buleleng. Di Polandia, sebagian besar pekerja ditempatkan pada sektor spa, sedangkan di Bulgaria lebih banyak terserap di bidang perhotelan.

Namun, peluang penempatan tenaga kerja ke luar negeri tidak lepas dari dinamika global. Konflik yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah beberapa waktu lalu menyebabkan permintaan tenaga kerja dari sejumlah negara di kawasan tersebut menurun drastis.

Baca juga:  Ratusan Personel Polres Buleleng Naik Pangkat

“Waktu ada perang Iran kemarin, permintaan dari negara-negara Timur Tengah praktis tidak ada. Ke Kuwait maupun Uni Emirat Arab hampir tidak ada permintaan. Yang masih berjalan saat itu hanya Turki,” jelasnya.

Di balik tingginya angka keberangkatan PMI, Disnakertrans ESDM Buleleng mengakui belum memiliki data pasti mengenai jumlah warga Buleleng yang hingga kini masih bekerja di luar negeri. Pasalnya, sistem yang ada hanya mencatat keberangkatan PMI melalui agen resmi atau P3MI, sedangkan data kepulangan maupun keberangkatan melalui jalur mandiri belum seluruhnya terdokumentasi.

Data keberangkatan tersebut tercatat dalam Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP P2MI). Namun, sistem itu hanya merekam data keberangkatan. “Kalau ditanya berapa warga Buleleng yang masih bekerja di luar negeri saat ini, kami tidak bisa memastikan. Karena yang tercatat hanya keberangkatan. Data kepulangan tidak tercatat di sistem,” kata Arimbawa.

Baca juga:  Ratusan Calon Naker Migran Bali Tertipu, Kerugian Belasan Miliar

Ia meyakini jumlah PMI asal Buleleng yang bekerja di luar negeri sebenarnya lebih besar dibandingkan data resmi yang dimiliki pemerintah. Sebab, masih banyak warga yang memilih berangkat secara mandiri sehingga tidak tercatat dalam sistem daerah. “Logikanya pasti lebih banyak dari data yang tercatat karena ada yang berangkat melalui jalur mandiri,” imbuhnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN