
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang senja, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Rabu (15/7) sore berubah menjadi ‘lautan’ almamater. Belasan ribu mahasiswa mengenakan almamater tempat mereka berkuliah memenuhi setiap sudut tribun.
Sementara yang tak lagi kebagian tempat duduk diarahkan ke area depan panggung yang dilengkapi layar lebar agar tetap dapat mengikuti rangkaian acara.
Sejak pukul 16.00 WITA, arus mahasiswa terus berdatangan. Mereka datang membawa semangat yang sama, yaitu bersiap meninggalkan ruang kuliah menuju desa-desa di seluruh Bali.
Sebelum acara dimulai, tampak musisi Bali Bagus Wirata tengah gladi di atas Panggung yang akan mengisi acara peluncuran program tersebut.
Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera 2026 ini akan diluncurkan Gubernur Bali, Wayan Koster. Program yang diinisiasi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali itu menjadi salah satu gerakan kolaboratif terbesar antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berbasis desa.
Tak kurang dari 37 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, bergabung dalam program tersebut. Sebanyak 13.244 mahasiswa akan diterjunkan ke berbagai desa, kelurahan, hingga desa adat di seluruh Bali. Jumlah itu bahkan masih berpotensi bertambah karena sejumlah perguruan tinggi masih menyelesaikan proses finalisasi peserta.
Sebelumnya, Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, mengatakan peluncuran program ini menjadi tonggak penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah melalui pengabdian langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera dirancang agar kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir sebagai mitra masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di tingkat desa, kelurahan, maupun desa adat.
Program tersebut memiliki enam sasaran utama. Pertama, menyosialisasikan visi pembangunan daerah Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru kepada masyarakat. Kedua, mengidentifikasi sekaligus mengembangkan potensi ekonomi desa. Ketiga, melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap program prioritas Pemerintah Provinsi Bali.
Selanjutnya, mahasiswa juga akan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan di desa, mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi masyarakat, hingga memfasilitasi pencarian alternatif solusi atas berbagai persoalan pembangunan yang ditemukan selama berada di lapangan.
Wica menjelaskan, para mahasiswa nantinya akan ditempatkan di berbagai wilayah kabupaten dan kota di Bali, termasuk menjangkau sekitar 1.500 desa adat. Penentuan lokasi diserahkan kepada masing-masing perguruan tinggi dengan mempertimbangkan potensi wilayah dan kompetensi keilmuan yang dimiliki mahasiswa.
Dengan pendekatan tersebut, setiap kampus diharapkan dapat memberikan kontribusi sesuai bidang keahliannya, mulai dari pengembangan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan, teknologi tepat guna, pelestarian lingkungan, hingga penguatan kelembagaan desa.
Program ini sejatinya merupakan pengembangan dari konsep Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang selama ini telah dijalankan berbagai perguruan tinggi. Namun kali ini, pelaksanaannya dikemas lebih terintegrasi melalui Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera sehingga memiliki arah yang lebih selaras dengan kebijakan pembangunan Pemerintah Provinsi Bali.
Lebih dari sekadar kegiatan akademik, program ini diharapkan menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Di desa, mereka tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga belajar memahami dinamika sosial, budaya, dan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Di sisi lain, kehadiran ribuan mahasiswa diharapkan mampu menjadi energi baru bagi desa-desa di Bali. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan melahirkan berbagai inovasi yang mampu mempercepat penyelesaian persoalan pembangunan sekaligus memperkuat terwujudnya Desa Kerthi Bali Sejahtera. (Ketut Winata/balipost)










