Hari kedua Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang digelar IESR bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan DEN, di Bali Convention Centre, The Meru Sanur, Denpasar, Rabu (15/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Indonesia memiliki peluang menikmati listrik gratis pada siang hari seperti yang terjadi di Australia asalkan pengembangan energi surya dilakukan secara serius dan massif. Hal ini mengemuka pada hari kedua Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang digelar Institute for Essential Services Reform (IESR) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Dewan Energi Nasional (DEN), di Bali Convention Centre, The Meru Sanur, Denpasar, Rabu (15/7).

Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan tenaga surya merupakan sumber energi bersih dengan potensi terbesar di Indonesia. Dengan potensi mencapai sekitar 3.300 gigawatt (GW), energi surya dinilai mampu menjadi tulang punggung transisi energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang masih banyak bergantung pada impor.

Baca juga:  Pemasangan Lampu Tenaga Surya di Buleleng Telan Anggaran Rp 1, 2 Miliar

“Tenaga surya merupakan potensi besar di Indonesia dalam mempercepat transisi energi. Selain itu, pemanfaatannya dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang mengancam ketahanan energi nasional,” ujar Fabby.

Menurutnya, sejumlah negara telah membuktikan manfaat investasi besar-besaran pada energi surya. Vietnam, misalnya, berhasil meningkatkan kapasitas pembangkit tenaga surya dalam waktu relatif singkat.

Sementara Tiongkok tidak hanya membangun pembangkit, tetapi juga menciptakan industri dan lapangan kerja baru melalui pengembangan teknologi energi surya.

Fabby menambahkan, Australia menjadi contoh paling nyata bagaimana penetrasi pembangkit listrik tenaga surya mampu mengubah sistem kelistrikan. Dengan sekitar tiga juta rumah yang telah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, produksi listrik pada pukul 12.00 hingga 15.00 bahkan melimpah sehingga harga listrik dapat turun hingga gratis pada periode tertentu.

Baca juga:  Kasus Korupsi Bibit Sapi, Direktris DKR Divonis Bebas

“Karena produksi energi surya berlebih di sana. Listrik gratis itu bisa terjadi di Indonesia kalau kita menggunakan energi surya secara besar-besaran,” katanya.

Selain menghasilkan listrik yang lebih bersih, pengembangan energi surya juga dinilai mampu membangun ekosistem industri baru, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan pasokan energi yang lebih andal dan terjangkau bagi masyarakat.

Sementara itu, Deputy Assistant for Energy and Mineral Resources Coordination Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sunandar, menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi energi bersih dunia. Menurutnya, Indonesia harus mampu mengembangkan dan menerapkan teknologi energi surya agar mampu bersaing di tengah percepatan transformasi energi global.

Baca juga:  Masuki Bulan Ramadan, Harga Cabai Alami Fluktuasi 

Ia mengakui pemanfaatan energi surya di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, industri, lembaga riset, hingga masyarakat agar percepatan transisi energi dapat berjalan lebih efektif.

“Penerapan energi tenaga surya di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Karena itu dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat diwujudkan menjadi kekuatan nyata,” ujarnya.

Melalui Indonesia Solar Summit 2026, pemerintah berharap lahir rekomendasi konkret yang mampu mempercepat pemanfaatan energi surya nasional, sekaligus memperkuat kemandirian energi dan mendukung target transisi menuju energi bersih.

“Mari kita akselerasi untuk mempercepat energi surya di Indonesia,” ajak Sunandar. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN