
SINGARAJA, BALIPOST.com – Seorang bayi laki-laki berusia 13 bulan ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di saluran irigasi (subak) di kawasan Terminal Penarukan, Banjar Dinas Pendes, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng, Minggu (12/7). Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
Korban berinisial PPWWY beralamat di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Kapolsek Singaraja, Kompol Gede Juli atas seizin Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman, dikonfirmasi Selasa (14/7), membenarkan peristiwa tersebut.
Menurutnya, personel Polsek Singaraja bergerak cepat mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan sejumlah saksi, serta berkoordinasi dengan pihak keluarga.
Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa bermula sekitar pukul 08.00 WITA saat korban bersama KJS (14) dan I Ketut Carita (43) berangkat dari Desa Bengkala menuju sebuah rumah di kawasan Terminal Penarukan untuk bermain. Setibanya di lokasi, korban dititipkan kepada kakeknya karena saksi hendak mengajak beberapa anak lainnya membeli perlengkapan sekolah sekitar pukul 10.30 WITA.
Saat kembali dari toko, saksi tidak lagi menemukan korban di tempat semula. Saksi kemudian menanyakan keberadaan korban kepada sang kakek.
Namun, sang kakek juga tidak mengetahui keberadaan cucunya. Menyadari korban hilang, keluarga bersama warga langsung melakukan pencarian di sekitar area terminal, termasuk menyusuri saluran irigasi yang berada di dekat lokasi.
Upaya pencarian membuahkan hasil sekitar pukul 12.25 WITA. Korban ditemukan di dalam saluran irigasi dalam kondisi lemas.
Kakek korban bersama keluarga kemudian segera membawa korban ke RS Kertha Usada Singaraja untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, korban dinyatakan telah meninggal dunia saat tiba di rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan luar juga ditemukan luka lebam pada bagian dahi yang diduga akibat benturan saat korban terjatuh ke saluran irigasi.
Kompol Gede Juli mengatakan, dari hasil penyelidikan awal, peristiwa tersebut merupakan musibah. Kendati demikian, pihak kepolisian tetap melakukan langkah-langkah sesuai prosedur untuk memastikan penyebab kejadian. Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua dan pengasuh anak, agar meningkatkan pengawasan terhadap balita, terutama saat berada di sekitar lokasi yang berpotensi membahayakan seperti saluran irigasi, sungai, maupun kolam.
“Pengawasan terhadap anak harus menjadi perhatian utama. Jangan biarkan balita bermain tanpa pengawasan, terlebih di sekitar area yang memiliki potensi membahayakan. Kami berharap kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya. (Nyoman Yudha/balipost)










