FGD ISI Bali bersama BRIDA Bali terkait “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali”, di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang momentum 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali mulai menyusun fondasi akademis untuk arah pembangunan pariwisata masa depan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) “Seratus Tahun Kepariwisataan Budaya Bali” yang digelar di Auditorium Kirtya Sabha Mahottama, Gedung Citta Kelangen Lantai III ISI Bali, Senin (13/7).

FGD merupakan bagian dari penelitian kolaboratif ISI Bali dan BRIDA yang bertujuan merefleksikan perjalanan satu abad kepariwisataan budaya Bali sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan agar pengembangan sektor pariwisata tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Bali.

Kepala BRIDA Provinsi Bali, Dr. Ketut Wica, menegaskan kajian tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga sebagai langkah menjaga kesakralan budaya Bali di tengah derasnya arus globalisasi dan komersialisasi.

Menurutnya, budaya Bali tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai komoditas wisata yang kehilangan makna filosofisnya. Karena itu, hasil penelitian diharapkan menjadi pijakan ilmiah dalam penyusunan kebijakan pemerintah yang mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan budaya.

Baca juga:  The ONE Legian Bali Juarai "Receptionist of the Year 2019" se-Indonesia

“Budaya Bali tidak boleh dijual murah hingga kehilangan kesakralan dan spiritualitasnya. Kebijakan yang disusun harus mampu melindungi masyarakat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Bali,” ujarnya.

Ketut Wica menjelaskan, perkembangan pariwisata Bali sejak awal tumbuh secara alami dari kehidupan masyarakat yang bertumpu pada seni, budaya, dan taksu. Melalui penelitian ini, berbagai fakta sejarah, peran tokoh, seniman, peneliti hingga masyarakat akan dirangkai menjadi pijakan dalam melihat arah pembangunan pariwisata Bali ke depan.

Ia juga menyebut momentum menuju satu abad pariwisata budaya menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi apakah pembangunan pariwisata selama ini masih berpijak pada identitas budaya Bali atau justru mulai bergeser.

Baca juga:  Gubernur Koster Resmikan Taman Budaya Bali Indah di Polandia

Sementara itu, Rektor ISI Bali Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana memaparkan hasil penelitian awal yang membagi perjalanan kepariwisataan budaya Bali ke dalam enam fase perkembangan, mulai dari masa perintisan hingga masa kebangkitan keempat.

Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa Bali tidak membangun pariwisatanya secara instan. Pariwisata justru tumbuh dari ekosistem budaya yang dibangun masyarakat bersama para seniman lokal, peneliti, tokoh puri, hingga interaksi dengan tamu-tamu internasional sejak awal abad ke-20.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya mantan Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 sekaligus Ketua PHRI Bali Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) yang mengulas lahirnya gagasan menuju 100 Tahun Pariwisata Bali berbasis budaya.

Tokoh pariwisata Ida Bagus Ngurah Wijaya mengangkat sejarah kawasan Sanur sebagai salah satu embrio berkembangnya industri pariwisata modern di Bali. Sementara pengamat budaya sekaligus ahli lontar, Sugi Lanus menyoroti peran kunjungan sastrawan dunia Rabindranath Tagore pada 1927 dalam memperkuat citra Bali sebagai pusat kebudayaan yang dikenal dunia.

Baca juga:  Bali Good Eyes Raih Penghargaan ISI Bali

Masukan juga datang dari Tim Pengendali Mutu Penelitian, Prof. Ir. Made Supartha Utama. Ia menilai tantangan terbesar Bali saat ini bukan sekadar mempromosikan budaya sebagai daya tarik wisata, melainkan memastikan nilai-nilai luhur budaya benar-benar menjadi dasar dalam sistem pembangunan, mulai dari tata kelola pariwisata, hukum hingga kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, perhatian tidak boleh berhenti pada tampilan budaya atau seremoni semata, tetapi harus menyentuh filosofi yang menjadi ruh kebudayaan Bali.

Melalui penelitian kolaboratif tersebut, ISI Bali dan BRIDA berharap dapat menghasilkan rekomendasi akademis yang menjadi acuan pembangunan kepariwisataan Bali pada abad berikutnya, dengan tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan identitas Bali sebagai destinasi budaya kelas dunia. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN