Rapat Koordinasi (Rakor) percepatan penurunan stunting yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Tabanan menetapkan 18 desa sebagai lokus prioritas percepatan penurunan stunting tahun 2026. Desa-desa tersebut tersebar di Kecamatan Selemadeg, Selemadeg Barat, Selemadeg Timur, Kerambitan, Penebel, dan Pupuan. Penetapan lokus ini diharapkan membuat intervensi penanganan stunting lebih terarah dan tepat sasaran.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penurunan Stunting yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tabanan di Ruang Rapat Lantai III Dinas Pendidikan Tabanan, Selasa (7/7). Rakor diikuti organisasi perangkat daerah (OPD), camat, kepala puskesmas, perguruan tinggi, Tim Penggerak PKK, hingga berbagai pemangku kepentingan.

Kepala Bappeda Tabanan, I Gede Urip Gunawan, mengatakan, percepatan penurunan stunting merupakan program lintas sektor yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Karena itu, seluruh OPD diarahkan bergerak dalam satu tujuan melalui penguatan delapan aksi konvergensi percepatan penurunan stunting.

Baca juga:  Sembilan KDMP di Tabanan Ditarget Beroperasi Juli, Ratusan Desa Masih Menunggu

“Melalui rakor ini kami memastikan seluruh perangkat daerah bergerak dalam satu arah dengan memperkuat pelaksanaan delapan aksi konvergensi. Sinergi OPD, pemerintah kecamatan, desa, puskesmas, perguruan tinggi, TP PKK, dunia usaha hingga media menjadi faktor penting agar intervensi semakin tepat sasaran, terutama pada desa-desa yang telah ditetapkan sebagai lokus prioritas,” ujarnya.

Menurutnya, intervensi di 18 desa tersebut akan difokuskan melalui pendekatan spesifik dan sensitif berdasarkan hasil analisis situasi di masing-masing wilayah. Upaya itu didukung 31 indikator layanan konvergensi, mulai pelayanan bagi ibu hamil, bayi, balita, remaja putri, calon pengantin, hingga penyediaan air minum aman, sanitasi layak, kepesertaan JKN, administrasi kependudukan, pendampingan keluarga, serta pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi.

Baca juga:  Puluhan Kilogram Ganja Dibakar

Selain itu, Pemkab Tabanan juga mengembangkan berbagai inovasi daerah, seperti BEST GENRE Tabanan, Semara Ratih, KERABAT KITA, dan Gemarikan untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat.

Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menegaskan percepatan penurunan stunting merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

“Penurunan stunting harus menjadi gerakan bersama. Saya mengajak seluruh perangkat daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dunia usaha, media, dan seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi. Dengan semangat gotong royong dan kerja yang terintegrasi, kita optimistis mampu melahirkan generasi Tabanan yang sehat, cerdas, dan berkualitas sebagai pondasi mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani,” tegasnya.

Baca juga:  Pengelola BUMDes di Karangasem Samakan Persepsi Kembangkan Usaha Desa Melalui Workshop

Berbagai upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data e-PPGBM 2025 dengan tingkat kelengkapan pengukuran mencapai 98,9 persen, prevalensi stunting di Kabupaten Tabanan tercatat 2,7 persen dari 20.994 balita yang telah diukur. Capaian tersebut turut mengantarkan Tabanan meraih Juara III Regional Jawa-Bali kategori Percepatan Penurunan Stunting dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.

Urip berharap seluruh perangkat daerah tetap menjaga komitmen dalam meningkatkan kualitas data dan memastikan seluruh intervensi benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan sehingga target penurunan stunting dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN