Suasana macet di Kuta, Badung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali Achris Sarwani mengungkapkan sejumlah faktor berpotensi mendorong kenaikan inflasi di Bali pada Juli 2026. Tingginya aktivitas masyarakat selama musim libur sekolah, ketidakpastian cuaca akibat peralihan musim, hingga potensi kenaikan biaya angkutan barang global menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

Achris mengatakan permintaan barang dan jasa diperkirakan meningkat seiring masuknya periode high season wisatawan nusantara yang bertepatan dengan libur sekolah.

“Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan konsumsi masyarakat, terutama pada sektor transportasi, akomodasi, makanan dan minuman,” katanya Kamis (2/7).

Selain itu, peralihan musim hujan menuju kemarau yang berpotensi dipengaruhi El Nino moderat juga berisiko mengganggu produksi pertanian sehingga dapat mempengaruhi pasokan sejumlah komoditas pangan.

Baca juga:  Ditimpa Buah Kelapa, Warga Manggis Alami Luka Serius di Kepala

Dari sisi eksternal, potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global juga perlu diwaspadai karena dapat memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Diakui, untuk mengantisipasi risiko tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi melalui berbagai langkah strategis.

Upaya yang dilakukan antara lain mengintensifkan operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring dan sidak pasokan LPG bersubsidi serta penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Pemerintah daerah juga terus meningkatkan pasokan komoditas melalui pelatihan urban farming, pemanfaatan lahan potensial, bantuan sarana dan prasarana pertanian, serta pemberian vaksin untuk ternak.

Baca juga:  Hadapi El Nino, BNPB Lakukan Operasi Darat dan Udara

“Di sisi distribusi, TPID memperkuat kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan agar pasokan tetap lancar serta memperluas penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar kepada masyarakat di seluruh kabupaten/kota,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bali pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,42 persen. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Bali tercatat 3,27 persen, meningkat dari 2,99 persen pada Mei 2026, namun masih sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.

Baca juga:  Hadapi Puncak Libur Sekolah, Standar Ketat Penyaluran Avtur di Bali Diterapkan

Inflasi Juni terutama dipicu oleh kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel, dan buncis. Sementara itu, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras.

Secara wilayah, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Tabanan sebesar 0,92 persen, diikuti Denpasar sebesar 0,75 persen, Badung sebesar 0,69 persen, dan Buleleng sebesar 0,46 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi Juni dengan andil 0,30 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,21 persen. (Suardika/balipost)

BAGIKAN