Aktivitas warga yang membeli kebutuhannya di pedagang Unit Pasar Cokro Kota Denpasar. Beberapa pangan di pasar tradisional mulai mengalami peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Galungan. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah dinamika ekonomi global, konsumsi rumah tangga di Bali masih menunjukkan kuat. Kinerja penjualan eceran berada di zona optimistis dan diperkirakan terus menguat hingga Mei 2026.

Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali pada April 2026 tercatat sebesar 125,3, meningkat 0,8 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan tetap berada di atas level optimistis (IPR >100).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengatakan peningkatan penjualan terutama didorong oleh naiknya permintaan pada kelompok suku cadang dan aksesori kendaraan sebesar 5 persen (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 2,2 persen (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,8 persen (mtm).

Baca juga:  Tren Sembuh Membaik, Optimis Melewati Masa Pandemi

Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung, serta bergeliatnya aktivitas ekonomi daerah yang didorong rangkaian Hari Ulang Tahun Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung.

“Momentum tersebut mendorong permintaan pada berbagai kelompok barang, khususnya yang berkaitan dengan mobilitas, rekreasi, dan aktivitas konsumsi masyarakat,” ujar Achris, Selasa (30/6)

Optimisme tersebut diperkirakan masih berlanjut pada Mei 2026. BI memproyeksikan IPR Mei 2026 meningkat menjadi 126,0, atau naik 0,6 persen dibandingkan April.

Baca juga:  Hilang Terseret di Pantai Klingking, Pelajar Ditemukan Meninggal

Kenaikan diperkirakan ditopang oleh meningkatnya penjualan kelompok sandang, barang lainnya, serta makanan, minuman, dan tembakau, seiring tetap tingginya permintaan masyarakat selama periode Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Waisak, dan Iduladha.

Optimisme pelaku usaha juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). Untuk tiga bulan mendatang atau Juli 2026, IEP mencapai 172,0, lebih tinggi dibandingkan Juni yang sebesar 170,0. Sementara IEP enam bulan mendatang atau Oktober 2026 meningkat menjadi 190,0 dari sebelumnya 184,0.

Baca juga:  Kapal Pesiar Berlabuh di Celukan Bawang, Dispar Buleleng Optimis Target Wisatawan Tercapai

Seluruh indeks tersebut berada pada zona optimistis, yang menunjukkan pelaku usaha ritel masih yakin prospek penjualan di Bali akan tetap terjaga dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan juga memperoleh dukungan dari pembiayaan perbankan. Berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT), kredit lapangan usaha perdagangan hingga April 2026 masih tumbuh 1,99 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Bank Indonesia menilai kuatnya konsumsi rumah tangga, optimisme pelaku usaha, serta dukungan pembiayaan menjadi modal penting bagi Bali untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian ekonomi global. (Suardika/balipost)

BAGIKAN