Ayunan kayu di perempatan Bingin Nusasakti, desa Nusasari, Melaya, Jembrana hanya digunakan saat libur Galungan dan Kuningan. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Hari Raya Galungan tidak hanya menjadi momentum umat Hindu melaksanakan persembahyangan, tetapi juga ajang berkumpul bersama keluarga. Warga yang merantau pun memanfaatkan libur panjang untuk pulang kampung dan menikmati suasana Galungan dan Kuningan di desa kelahiran, termasuk masyarakat di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Di desa tersebut, perayaan Galungan dan Kuningan diwarnai beragam kegiatan. Selain rangkaian upacara keagamaan, masyarakat juga menantikan dibukanya pasar adat di kawasan Perempatan Bingin, Banjar Nusa Sakti.

Pasar musiman yang hanya buka saat Galungan dan Kuningan ini menjadi pusat keramaian yang tidak hanya didatangi warga setempat, tetapi juga pengunjung dari desa-desa sekitar.

Baca juga:  Diterjang Gelombang Tinggi, Jalan Rabat Beton di Pantai Pebuahan Jebol

Salah satu daya tarik utamanya adalah ayunan kayu tradisional yang telah bertahan sejak puluhan tahun silam. Bendesa Desa Adat Nusasari, I Wayan Timpuh, mengatakan wahana tersebut menjadi ikon pasar adat setiap perayaan Galungan.

“Ini merupakan ayunan tradisional yang digerakkan secara manual tanpa mesin. Keberadaannya sudah diwariskan secara turun-temurun dan selalu ramai saat Galungan maupun Umanis Galungan,” ujarnya.

Bentuknya menyerupai bianglala berukuran kecil yang seluruh konstruksinya menggunakan kayu. Ayunan diputar dengan tenaga manusia menggunakan kaki sehingga menghasilkan bunyi khas dari gesekan kayu saat berputar. Suara tersebut menjadi ciri yang selalu membangkitkan nostalgia masyarakat.

Baca juga:  Bupati Wayan Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta Ucapkan Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan

Menurut Wayan Timpuh ayunan kayu ini telah ada sejak era 1960-an dan menjadi bagian dari kenangan masa kecil banyak warga. Karena memiliki nilai sejarah dan tradisi, Desa Adat Nusasari terus mempertahankan keberadaannya sebagai warisan tradisi. Bangunan yang lebih kokoh dengan atap tinggi dibangun.

Selain menjadi sarana hiburan, keberadaan pasar adat juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Ramainya pengunjung membuat pedagang musiman ikut memadati kawasan tersebut. Pengelolaannya dilakukan Banjar Adat Nusa Sakti sehingga turut memberikan kontribusi bagi desa adat.

Baca juga:  Rayakan Natal

“Setiap manis Galungan pasar selalu ramai. Banyak pedagang datang berjualan dan ayunan kayu menjadi magnet yang menarik masyarakat untuk berkunjung,” kata Putu Puspa, salah satu warga.

Di tengah hadirnya berbagai wahana permainan modern, ayunan kayu tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Kesederhanaannya justru menjadi daya tarik yang terus menghidupkan suasana Galungan di Desa Nusasari dari generasi ke generasi. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN