
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang Hari Suci Kuningan dan Pujawali Pura Sakenan pada tahun ini terdapat lima penjor hias berukuran besar berdiri megah di depan pura, Kamis (25/6).
Kelima penjor ini merupakan karya dari generasi muda (yowana) di lima banjar yang ikut serta dalam ajang Festival Penjor Desa Serangan.
Kelima penjor tersebut merupakan karya yowana Banjar Ponjok, Banjar Kaja, Banjar Kawan, Banjar Peken, dan Banjar Dukuh. Mereka berpartisipasi dalam lomba penjor hias yang menjadi bagian dari upaya pelestarian seni dan budaya Bali sekaligus menyambut rangkaian Pujawali Pura Sakenan yang puncaknya berlangsung pada Hari Suci Kuningan, Sabtu (27/6).
Jro Bendesa Adat Serangan, Jro Nyoman Gede Pariartha, mengatakan festival ini bertujuan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga warisan budaya Bali agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, dari enam banjar yang ada di Desa Adat Serangan, hanya lima banjar yang mengikuti lomba tahun ini karena Banjar Tengah berhalangan ikut serta.
“Festival ini menjadi wadah bagi yowana untuk berkreativitas dan melestarikan seni budaya Bali. Dari enam banjar yang ada di Serangan, satu banjar tidak bisa berpartisipasi tahun ini karena berhalangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lomba penjor tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga dan mendapat sambutan sangat positif dari para peserta. Antusiasme yowana terlihat dari kesungguhan mereka menyiapkan penjor dengan berbagai ornamen khas Bali yang sarat nilai estetika dan filosofi.
“Antusiasmenya luar biasa. Bahkan para yowana rela begadang untuk menyelesaikan penjor agar dapat mempersembahkan karya terbaik bagi banjar dan masyarakat,” katanya.
Pariartha menambahkan, terselenggaranya festival ini tidak terlepas dari dukungan Bali Turtle Island Development (BTID) yang sejak awal menggagas kegiatan tersebut bersama Desa Adat Serangan. Dukungan tersebut dinilai penting karena biaya pembuatan satu penjor dapat mencapai lebih dari Rp5 juta.
“Kami dari desa adat tentu memberikan dukungan penuh. Apalagi biaya pembuatan satu penjor cukup besar, bisa lebih dari Rp 5 juta,” jelasnya.
Salah satu panitia acara Festival Penjor, Ni Putu Sherinita dari Banjar Kawan, mengatakan, dibandingkan tahun lalu, festival kali ini terasa berbeda. “Kalau yang serunya di tahun ini, yang jadi panitia itu dari kami sendiri, dari Sekaa Teruna Teruni (STT). Yang buat seru itu karena kami STT, bersama-sama mengerjakannya,” ujar perempuan yang akrab disapa Sherin itu.
Setelah melalui proses kurasi dan penilaian, ST. Panca Yasa dari Banjar Ponjok akhirnya berhasil keluar sebagai peraih juara pertama. Juara kedua diraih oleh ST. Hredaya dari Banjar Dukuh dan posisi ketiga ditempati oleh ST. Satya Witra dari Banjar Kawan.
Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan pelibatan yowana dari Desa Serangan sebagai panitia Festival Penjor ini merupakan salah satu upaya dalam memberdayakan dan membantu mengasah kreativitas para muda-mudi untuk mengembangkan kemampuan dalam berorganisasi.
“Melihat dedikasi dan hasil kerja keras teman-teman Yowana hari ini, rasanya sungguh
terharu dan membanggakan. Festival ini menjadi panggung pembuktian kreativitas
mereka,” ujar Zefri. (Ketut Winata/balipost)









