Seniman duta Kabupaten Gianyar menampilkan revitalisasi Gong Saron pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Taman Budaya, Denpasar, Rabu (24/6). Gong Saron merupakan salah satu gamelan tua Bali yang sangat langka dan disakralkan.(BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Senja perlahan turun di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Rabu (24/6) sore. Di tengah riuh Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, suara gamelan tua bergema pelan namun berwibawa.

Denting bilah saron, hentakan kendang, dan getaran gong seolah membuka lorong waktu, mengajak penonton menelusuri kisah yang telah hidup lebih dari satu setengah abad.

Di panggung itu, Sekaa Gong Saron Blambangan Banjar Seseh, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar, tidak sekadar menampilkan musik tradisi. Mereka menghadirkan kembali warisan leluhur yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat Bali, terutama dalam mengiringi tahapan sakral kehidupan dan kematian manusia.

Bagi masyarakat Banjar Seseh, Gong Saron bukan hanya seperangkat gamelan tua. Ia adalah pusaka. Ia adalah sejarah yang masih bernapas.

Koordinator Sekaa Gong Saron Blambangan, Putu Suyadnya, menuturkan bahwa keberadaan gamelan tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui cerita para pengelingsir. Berdasarkan gugon tuwon yang hidup dalam ingatan masyarakat, gamelan itu diyakini berasal dari Kerajaan Blambangan di ujung timur Pulau Jawa.

Konon, pada masa kejayaan Kerajaan Mengwi, seorang keturunan Prabu Kalianget bernama Dewa Kaleran mendapat tugas mengikuti ekspedisi ke Blambangan. Ia menjadi bagian dari 80 pasukan yang dalam tradisi lisan masyarakat dikenal sebagai peristiwa Ngebug Gumi Blambangan.

“Dari cerita pengelingsir kami, gong ini berasal dari Blambangan. Dulu saat Kerajaan Mengwi mengutus pasukan menyerang Blambangan, salah satu rampasan yang dibawa pulang adalah Gong Saron ini,” ujar Putu Suyadnya seusai pementasan.

Kisah tersebut juga dikaitkan dengan peristiwa bersejarah di kawasan Pantai Seseh, Cemagi, yang dipercaya menjadi lokasi gugurnya sejumlah petinggi Kerajaan Blambangan, termasuk Prabu Agung Danuningrat atau Pangeran Mas Sepuh.

Baca juga:  Dicari Kurir Paket, Penghuni Kos Ditemukan Meninggal

Sejak saat itulah seperangkat gamelan tersebut dikenal sebagai Gong Saron Blambangan Seseh. Dari generasi ke generasi, masyarakat menjaga keberadaannya sebagai simbol identitas budaya sekaligus pengingat hubungan sejarah Bali dan Blambangan.

Menariknya, warisan itu tidak tersimpan utuh di satu tempat. Hingga kini, bagian-bagian gamelan masih berada di dua banjar yang bertetangga.

“Saron dan riongnya ada di banjar kami, sedangkan kendangnya ada di Banjar Apuan,” kata Putu Suyadnya.

Usia gamelan tersebut diyakini telah melampaui 150 tahun. Bahkan pelawah atau tatakan gong yang digunakan saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Hanya ornamen prada yang menghiasinya yang ditambahkan sekitar tahun 1990-an.

“Niki tatakan gongnya dari dulu memang begini. Dari penglingsir kami sekitar lebih dari 150 tahunan. Katanya kakek saya, sejak beliau kecil bentuknya juga sudah seperti ini. Yang baru hanya pradanya sekitar tahun 1990-an,” ungkapnya.

Namun yang paling berharga bukan hanya instrumennya. Tradisi menabuh Gong Saron juga diwariskan melalui sistem yang disebut tegak.

Dalam komunitas tersebut terdapat 16 pemilik tegak yang memiliki hak dan tanggung jawab menjaga keberlangsungan Sekaa Gong Saron. Jumlah itu sesuai dengan kebutuhan penabuh dalam satu barungan lengkap.

Keanggotaan sekaa bukan semata-mata berdasarkan kemampuan menabuh, melainkan juga terkait garis keturunan. Jika seorang anggota hendak berhenti, harus ada penerus yang mendapat persetujuan dari pemilik tegak.

“Ada 16 tegak. Kalau ada anggota ingin mengundurkan diri harus ada penggantinya dulu dan mendapat izin. Saya sendiri mewarisi dari kakek. Banyak penabuh yang tampil sekarang juga keturunan pemilik tegak,” jelasnya.

Baca juga:  Bali Perlu Waspadai Perkembangan Destinasi Wisata di Dunia

Di tengah derasnya modernisasi, sistem pewarisan seperti ini menjadi benteng yang menjaga tradisi tetap hidup. Hal itu terlihat dalam pementasan di PKB. Sebagian besar penabuh merupakan generasi lingsir yang telah puluhan tahun mengabdikan diri pada sekaa. Namun di antara mereka tampak pula wajah-wajah muda yang mulai mengambil peran.

Perjumpaan dua generasi itu menjadi gambaran bahwa warisan budaya tidak hanya dipelihara, tetapi juga sedang disiapkan untuk masa depan.

Hingga kini, Gong Saron masih aktif digunakan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan. Terutama dalam rangkaian Pitra Yadnya seperti ngaben, ngeroras, hingga memukur.

Suara gamelan tua itu juga masih kerap terdengar di sejumlah puri besar di Bali.

“Masih dipakai sampai sekarang. Sering digunakan di Puri Pemecutan, Puri Satria, Puri Tainsiat, sampai puri-puri di Ubud. Kalau ada upacara ngaben biasanya Gong Saron ini digunakan,” ujarnya.

Selain mengiringi prosesi kematian, Gong Saron juga menjadi bagian penting dalam upacara di desa adat, termasuk saat prosesi menghias pratima dan Ida Bhatara di pura-pura setempat.

Secara musikal, Gong Saron Blambangan termasuk kelompok gamelan tua Bali berlaras pelog tujuh nada. Barungan ini memadukan unsur kerawang, kayu, kulit, dan bambu dengan berbagai patet seperti Mayura, Panji Gede, Panji Cenik, Wargasari, Delod Pangkung hingga Patemon.

Dalam pergelaran bertajuk Revitalisasi Gong Saron di PKB 2026, sekaa yang dibina I Kadek Sudirman itu membawakan empat repertoar yang selama ini lekat dengan pelaksanaan upacara Pitra Yadnya.

Baca juga:  BBPOM Uji Sampling 19 Produk Kuliner di PKB 2026

Pementasan diawali dengan Tabuh Sih Miring yang mengiringi proses membangunkan palatra atma menuju Bale Petak untuk memohon penyucian. Dilanjutkan Tabuh Ginada atau Cinada yang biasa dimainkan saat prosesi menurunkan jenazah dari Bale Dangin.

Suasana kemudian berubah semakin haru ketika Tabuh Lilit dimainkan. Gending pengiring prosesi memandikan jenazah itu dikenal memiliki nuansa magis dan emosional yang kuat.

Sebagai penutup, mereka membawakan Tabuh Gilak Sukasti yang terinspirasi dari kisah rakyat Bali tentang Ni Luh Sukasti dan I Gede Basur, sebuah cerita tentang cinta, sakit hati, dan penyalahgunaan ilmu hitam yang kerap hadir dalam tradisi Calonarang.

Bagi masyarakat Banjar Seseh, seluruh repertoar tersebut memiliki hubungan erat dengan tema PKB XLVIII Tahun 2026, yakni “Atma Kerti: Jiwa Sidha Parisudha.” Di balik setiap pukulan bilah dan denting gong, tersimpan filosofi perjalanan roh menuju asalnya.

“Kata gong dimaknai sebagai representasi semesta, sedangkan luang berarti sunia atau alam niskala. Karena itu setiap repertoar yang dimainkan mengikuti tahapan upacara dan mengandung makna perjalanan roh menuju penyatuan dengan Sang Pencipta,” tutur Putu Suyadnya.

Ketika tabuhan terakhir berhenti dan panggung kembali hening, yang tersisa bukan hanya kekaguman atas keindahan musik tradisi. Lebih dari itu, penonton diajak menyadari bahwa di balik seperangkat gamelan tua berusia lebih dari 150 tahun, tersimpan memori kolektif tentang sejarah, pengabdian, dan keyakinan spiritual yang terus diwariskan. (Adv/balipost)

BAGIKAN