lomba pembuatan layangan tradisional Pecukan dalam rangkaian Jantra Tradisi Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah maraknya permainan modern dan teknologi digital, sekelompok pecinta budaya Bali memilih berkumpul di halaman Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (23/6). Mereka bukan sekadar membuat layangan, tetapi sedang merawat warisan leluhur melalui lomba pembuatan layangan tradisional Pecukan dalam rangkaian Jantra Tradisi Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026.

Layangan Pecukan yang dikenal sebagai salah satu layangan tradisional tertua di Bali menjadi pusat perhatian dalam ajang tersebut. Bentuknya sederhana menyerupai belah ketupat, namun menyimpan tantangan besar. Tidak mudah membuat dan menerbangkannya karena karakter Pecukan yang asimetris membuatnya sulit dikendalikan saat mengudara.

Bagi masyarakat Bali, Pecukan bukan sekadar permainan. Layangan ini memiliki makna filosofis yang dalam dan sejalan dengan tema PKB tahun ini, Atma Kerthi atau penyucian jiwa.

Baca juga:  PON Mundur, Gateball Usul Dipertandingkan

Kepala Bidang Tradisi dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Putu Sutaryana, menjelaskan bahwa proses menerbangkan Pecukan mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri.

“Betapa susahnya menaikkan layangan Pecukan. Sama seperti jiwa manusia yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk mencapai keseimbangan,” ujarnya.

Selain sarat makna spiritual, Pecukan dipilih karena lebih terjangkau dibandingkan jenis layangan tradisional lainnya, seperti Janggan yang membutuhkan biaya pembuatan lebih besar. Namun demikian, tingkat kesulitan dalam pembuatannya tetap menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta.

Tahun ini, lomba diikuti lima tim dari Gianyar, Denpasar, dan Badung. Jumlah peserta memang belum banyak. Selain berdekatan dengan agenda festival layang-layang lainnya, sejumlah daerah juga masih fokus mempersiapkan berbagai kegiatan PKB.

Meski demikian, semangat pelestarian budaya tetap terlihat kuat. Panitia bahkan membuka pendaftaran secara daring untuk memudahkan masyarakat mengikuti kompetisi tersebut.

Baca juga:  Tiga Layangan "BTR" Ramaikan Pitik Kite Festival

Sutaryana berharap pada pelaksanaan mendatang seluruh kabupaten dan kota di Bali dapat mengirimkan wakilnya sehingga tradisi membuat layangan Pecukan semakin dikenal generasi muda.

Semangat pewarisan budaya juga mendapat apresiasi dari juri lomba sekaligus pegiat layangan tradisional Bali dari Pelangi Bali, Wayan Duduk Puri Raharja. Menurutnya, perkembangan zaman justru membuka peluang lebih besar bagi regenerasi pembuat layangan tradisional.

Ia mengenang masa lalu ketika pengetahuan mengenai sikut atau rumus ukuran layangan sering dirahasiakan oleh para tetua. Kini, ilmu tersebut lebih terbuka sehingga generasi muda dapat belajar lebih cepat.

“Kalau dulu banyak yang disembunyikan, sekarang semuanya lebih terbuka. Anak-anak muda juga lebih cepat menangkap dan mempelajarinya,” katanya.

Dalam lomba ini, penilaian tidak hanya melihat hasil akhir. Tim juri menilai mulai dari proses pemilihan bahan, ketepatan membuat sikut, teknik konstruksi agar layangan mampu terbang stabil, hingga kualitas guwangan yang menghasilkan suara khas saat layangan mengudara.

Baca juga:  PKB 2026 Angkat Isu Sosial, Fenomena 'Bundir' Masuk Agenda Sarasehan

Menariknya, kompetisi juga memanfaatkan teknologi digital. Para peserta diwajibkan mengirimkan dokumentasi video mulai dari proses pembuatan hingga penerbangan layangan sebagai bagian dari penilaian.

Dengan warna khas Tridatu—merah, putih, dan hitam—serta ekor penyeimbang yang menjadi ciri utamanya, Pecukan kembali membuktikan bahwa permainan rakyat Bali tidak sekadar hiburan. Di balik selembar kain yang terbang mengikuti arah angin, tersimpan nilai-nilai kesabaran, ketekunan, dan spiritualitas yang diwariskan turun-temurun.

Melalui Jantra Tradisi Bali dalam PKB 2026, Pecukan tidak hanya diterbangkan ke langit, tetapi juga diupayakan tetap hidup di hati generasi penerus Bali. (Adv/balipost)

BAGIKAN