Langit Pantai Mertasari, Sanur, dipenuhi layangan tradisional Bali pada pelaksanaan Festival Layangan Bali (FLB) #5 Tahun 2026, Sabtu (18/7). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Langit Pantai Mertasari, Sanur, dipenuhi ratusan layangan tradisional Bali pada pelaksanaan Festival Layangan Bali (FLB) #5 Tahun 2026. Ajang budaya yang berlangsung selama dua hari, 18–19 Juli 2026, ini menjadi wadah pelestarian tradisi sekaligus ruang kreativitas bagi para seniman layangan dari berbagai kabupaten/kota di Bali.

Mengusung tema “Yadnya Cakra: Kreativitas Tiada Henti”, festival yang digelar Komunitas Seni Layangan Bali tersebut diikuti 987 peserta yang bersaing memperebutkan Piala Gubernur Bali, piagam penghargaan, serta uang pembinaan dengan total hadiah mencapai ratusan juta rupiah.

Ketua Panitia, Putu Chris Budhi Setyawan, didampingi Sekretaris I Komang Elen Juniadi, mengatakan festival ini lahir sebagai upaya menjaga eksistensi budaya layang-layang tradisional Bali di tengah derasnya arus globalisasi yang dinilai dapat menggerus karakter gotong royong dan budaya timur.

Menurutnya, melalui seni layangan, masyarakat tidak hanya diajak melestarikan warisan budaya, tetapi juga belajar mengenai kebersamaan, disiplin, serta sportivitas dalam berkompetisi.

“Festival ini menjadi wadah silaturahmi antar-sekaa layangan sekaligus sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali,” ujarnya, Sabtu (18/7).

Ia menjelaskan tujuan penyelenggaraan festival meliputi pelestarian budaya daerah, penyaluran minat dan bakat di bidang seni budaya, serta memberikan ruang bagi para undagi dan seniman muda untuk terus berkreasi dalam pembuatan layangan tradisional.

Baca juga:  5 Berita Terpopuler: Dari Sejumlah Penerbangan Internasional Dibatalkan hingga Penilaian Ogoh-ogoh Denpasar

Diungkapkan, festival tahun ini mempertandingkan empat kategori dengan total 987 layangan. Pada hari pertama, Sabtu (18/7), diterbangkan 457 layangan, sedangkan hari kedua, Minggu (19/7), sebanyak 530 layangan dan dibuka oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

Kategori yang diperlombakan meliputi kategori remaja, dewasa, dan big size. Pada kategori remaja diperlombakan layangan Bebean, Pecukan, Janggan, dan Janggan Buntut dengan ukuran maksimal lebar 380 sentimeter.

Sementara kategori dewasa mempertandingkan Bebean, Pecukan, Janggan, Janggan Buntut, serta Layangan Kreasi dengan ukuran maksimal lebar 500 sentimeter.

Adapun kategori Big Size diikuti layangan Bebean dan Janggan Buntut dengan ukuran minimal 600 sentimeter.

Selain juara 1 hingga 3 serta juara harapan, panitia juga memperebutkan The Champion Piala Gubernur Bali 2026 untuk kategori Dewasa dan Big Size dengan total hadiah mencapai Rp100 juta.

Panitia menerapkan sistem penilaian yang cukup ketat. Aspek yang dinilai meliputi kerapian, elog, guangan, dan keharmonisan layangan.

Penilaian tidak hanya dilakukan saat layangan diterbangkan, tetapi juga sejak peserta menuju lokasi lomba hingga kembali pulang. Tim juri pengintai ditempatkan di sejumlah titik jalan raya dan area parkir layangan untuk menilai kedisiplinan peserta, termasuk kepatuhan terhadap aturan lalu lintas. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Baca juga:  Dukung Rai Mantra, Ini Alasan Cok Rat

Selain itu, panitia menetapkan berbagai ketentuan teknis. Nomor peserta yang dipasang terbalik atau salah langsung berakibat diskualifikasi. Layangan wajib terbang minimal 50 meter dari permukaan tanah, kecuali kondisi angin tidak memungkinkan.

Pada proses penurunan, layangan harus mendarat dengan sempurna. Layangan yang patah, guangan putus, guangan tidak berfungsi (neplek), maupun menyentuh tanah sebelum ditangkap dinyatakan gugur.

Jika dua layangan bersentuhan (mekoret) namun tetap mempertahankan bentuk dan keharmonisan, penilaian tetap dilanjutkan. Sebaliknya, apabila terjadi mebandung (nguyeng) hingga merusak bentuk layangan, peserta dinyatakan gugur.

Layangan yang masih berada di udara ketika bendera kuning dikibarkan juga otomatis didiskualifikasi.

Festival ini juga mewajibkan penggunaan warna tradisional Bali, yakni merah, putih, hitam, dan kuning. Seluruh layangan diwajibkan menggunakan guangan, kecuali kategori layangan kreasi.

Panitia melarang peserta membawa sound system maupun minuman keras ke arena lomba. Seluruh pemain diwajibkan mengenakan busana adat madya atau pakaian yang sesuai, menjaga kebersihan lokasi, serta mematuhi ketentuan pengelola Pantai Mertasari.

Baca juga:  Kasus COVID-19 Bali Masih Melonjak, Lima Zona Merah dan 1 Orange Jadi Penyumbang Terbanyak

Pengaturan area terbang juga diterapkan agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan pantai. Layangan selain jenis Janggan tidak diperbolehkan mengarah ke area parkir sebelah utara, sedangkan kategori remaja dilarang menarik layangan melewati kawasan loloan jukung, kecuali kondisi angin tidak mendukung.

Dalam kesempatan tersebut, Komunitas Seni Layangan Bali juga menyampaikan harapan kepada Pemerintah Provinsi Bali agar menyediakan lapangan khusus yang representatif sebagai ruang bermain layangan tradisional setiap musim layangan.

Panitia juga berharap Festival Layangan Bali dapat terus memperoleh dukungan pemerintah dan menjadi agenda rutin yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Bali.

Meski jumlah peserta pada setiap seri tahun ini dikurangi karena keterbatasan lokasi penyelenggaraan di Pantai Mertasari, panitia berharap festival tetap mampu menjadi ruang pelestarian budaya Bali sekaligus memperkuat kreativitas para seniman layangan, dengan tetap mengedepankan sportivitas, keselamatan, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN