
SINGARAJA, BALIPOST.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memberikan tekanan terhadap operasional Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng. Tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya operasional perusahaan, kenaikan BBM juga memicu lonjakan harga material perpipaan yang menjadi komponen utama dalam pemeliharaan maupun pengembangan jaringan distribusi air bersih.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, Made Lestariana, dikonfirmasi, Jumat (12/6), mengatakan bahwa dampak paling terasa terjadi pada kenaikan harga material berbahan plastik, seperti pipa PVC dan HDPE. Material tersebut selama ini menjadi kebutuhan utama dalam pembangunan dan perbaikan jaringan air minum.
Menurutnya, sejumlah jenis material mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Bahkan, untuk beberapa item kenaikannya mencapai sekitar 30 persen dibandingkan harga sebelumnya.
“Kenaikan harga material terutama yang berbahan plastik cukup terasa. Beberapa jenis material mengalami kenaikan hingga sekitar 30 persen,” ujarnya.
Selain berdampak pada harga material, kenaikan BBM juga ikut menambah beban biaya operasional perusahaan. Meski demikian, Perumda Tirta Hita berupaya mengantisipasi kondisi tersebut dengan menerapkan berbagai langkah efisiensi pada sejumlah kegiatan operasional.
Lestariana menjelaskan, perusahaan berusaha menjaga keseimbangan biaya agar peningkatan pengeluaran tidak sampai mempengaruhi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Efisiensi dilakukan dengan menekan sejumlah biaya yang dinilai masih dapat dioptimalkan.
“Strategi kami adalah melakukan efisiensi di sejumlah kegiatan operasional. Material memang naik, tetapi di sisi lain kami berupaya menekan biaya sehingga kestabilan beban operasional tetap terjaga,” katanya.
Beban operasional juga dirasakan pada pelayanan distribusi air menggunakan mobil tangki saat terjadi gangguan suplai air kepada pelanggan. Saat ini Perumda Tirta Hita memiliki dua unit mobil tangki yang menggunakan Pertamina Dex sebagai bahan bakar.
Ketika terjadi gangguan pelayanan, mobil tangki harus beroperasi untuk melayani kebutuhan pelanggan. Dalam kondisi tersebut, biaya pengisian BBM dapat mencapai sekitar Rp800 ribu untuk operasional selama dua hingga tiga hari pelayanan darurat.
“Ketika ada gangguan pelayanan, mobil tangki harus tetap beroperasi. Itu yang paling terasa karena biaya bahan bakarnya cukup tinggi,” jelasnya.
Meski menghadapi kenaikan biaya operasional dan harga material, Perumda Tirta Hita memastikan tarif air bagi pelanggan tidak mengalami perubahan hingga akhir tahun 2026. Hal itu karena tarif yang berlaku saat ini telah ditetapkan sejak awal tahun dan tidak memungkinkan dilakukan penyesuaian di tengah tahun berjalan.
Menurut Lestariana, evaluasi tarif air umumnya dilakukan setiap tahun. Kajian terhadap tarif untuk tahun berikutnya juga baru mulai disusun pada pertengahan tahun.
“Tarif yang berlaku saat ini tetap sampai akhir tahun. Tidak bisa dilakukan koreksi tarif di pertengahan tahun,” tegasnya.
Sementara itu, perusahaan masih melakukan perhitungan terkait dampak kenaikan harga material terhadap biaya pemasangan sambungan baru pelanggan. Hingga kini belum ada keputusan apakah biaya tersebut akan disesuaikan atau tetap dipertahankan seperti saat ini.
“Kami masih melakukan perhitungan. Yang terpenting saat ini adalah menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat,” imbuhnya. (Yuda/balipost)










