
DENPASAR, BALIPOST.com – Penjualan penjor belum menunjukkan geliat yang signifikan pada H-6 Galungan ini. Perajin ataupun pedagang masih merasakan sepinya pembeli. Efisiensi pun dilakukan perajin di tengah kenaikan harga bahan baku.
Salah seorang perajin penjor di Jalan Kusuma Bangsa, Denpasar Utara, Made Mangku Budiartha, Kamis (11/6), mengatakan, biasanya pemesanan penjor sudah ramai pada H-9 ataupun H-10 Galungan. Namun, hingga kini belum begitu banyak pemesanan penjor yang dilakukan masyarakat.
“Jika dibandingkan Galungan sebelumnya, ini jauh menurun. Biasanya H-9 itu, 50 persen pemasok (penggunaan) bahan sudah terisi. Sekarang baru 30 persen,” katanya.
Mangku Budiartha pun mengaku sudah mengalami penurunan omzet sekitar 30 persen. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena lesunya perekonomian yang banyak masyarakat kini memilih membuat penjor sendiri. “Kalau ekonomi bagus, H-10 itu sudah mulai banyak pesanan dan sudah DP. Jadi bisa tenang kita kerjakan,” katanya.
Saat ini, sembari menunggu pesanan, ia mengerjakan penjor yang ukuran kecil. Hal tersebut mengingat penjor kecil lebih banyak diminati oleh masyarakat seperti Galungan sebelumnya. Ia berharap mendekati Galungan nanti permintaan penjor lebih menggeliat.
Harga penjor kecil mulai dari Rp250.000 per batang. Sementara, penjor lebih besar mulai Rp500.000 hingga Rp1 juta per batang. “Enam bulan lalu itu penjor kecil sekitar 80 persen terjual. Sisanya 20 persen penjor besar. Galungan sebelumnya penjualan masih bagus,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh perajin penjor lainnya, I Gusti Putu Putra. Dia mengaku saat ini masih belum banyak pesanan. Namun dibandingkan Galungan sebelumnya, permintaan masih stagnan. Diakuinya ada konsumen baru yang melakukan permintaan, ini terjadi karena gencarnya promosi yang dilakukan di media sosial.
Meski demikian, ia berharap pada H-3 nanti permintaan datang lebih banyak. “Karena sekarang masih banyak masyarakat yang kayak wait and see, sepertinya bisa mengerjakan. Tapi ketika kepepet, pada H-3 itu nanti mudah-mudahan banyak permintaan,” katanya.
Di sisi lain, dia mengaku ada kenaikan bahan baku, terutama daun ental yang naik Rp100.000 per gabungnya. Untuk menyiasati hal tersebut dan bisa memberi harga sama seperti Galungan sebelumnya, dia melakukan efisiensi. Beberapa kebutuhan yang bisa dibuat, dia buat sendiri. Seperti halnya sanggah, dia membuat sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia. (Widiastuti/balipost)










