
Denpasar, BALIPOST.com – Kenaikan BBM khususnya pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga barang. Pelaku UMKM yang sebelumnya sudah merasakan kenaikan harga bahan baku pun kini makin cemas.
Salah satunya diakui oleh pemilik usaha kue di Denpasar, Irene Emiliana Suwitri. Saat ditemui di kediamannya di wilayah Ubung Kaja, Denpasar, dia mengaku, sejak awal terjadinya perang di Timur Tengah, harga bahan baku kue perlahan mengalami peningkatan. Kenaikan terutama untuk bahan-bahan yang didatangkan dari luar negeri atau impor.
Seperti halnya harga butter mengalami kenaikan hampir 50 persen. “Belum lagi bahan-bahan lain seperti tepung, gula, yang naik. Lalu sayuran dan lombok juga,” terangnya, Rabu (10/6).
Saat ini dengan kenaikan harga BBM, Irene pun khawatir akan kembali membuat harga bahan baku menjadi naik. Untuk menyiasati kenaikan harga yang sudah terjadi sebelumnya, dia pun terpaksa harus menaikkan harga kue. Sebab, pelanggannya tak mau ukuran kue diperkecil.
“Pelanggan setuju harganya dinaikkan ketimbang ukurannya diperkecil. Jadi misalnya puding cokelat yang harganya Rp7 ribuan, naik jadi Rp10 ribuan,” paparnya.
Beruntung, meski harus menaikkan harga, sampai saat ini ia mengaku pelanggannya masih setia. Ia pun berharap tak ada lagi kenaikan harga bahan baku dan tak sampai menaikkan harga kue lagi.
Sementara itu, pedagang rujak di Penatih, Denpasar, Bayu Sastra Negari mengatakan, sebelumnya ia sudah merasakan dampak kenaikan harga plastik. Sementara, untuk bahan baku, sampai saat ini belum ada kenaikan harga. “Kalau hitungannya dari awal memang ada harga plastik yang naik, tapi kalau belakangan ini belum ada kenaikan lagi. Mudah-mudahan tidak naik. Harapannya sih turun,” papar pemilik usaha Mak Lemak ini.
Sementara itu, pembuat peyek yang tinggal di Kesiman, Denpasar, Ni Nengah Suryantini mengaku telah merasakan adanya kenaikan bahan baku berupa kacang dan plastik. Untuk bisa berjualan, ia terpaksa memperkecil ukuran produk. “Saya kan menyerahkan ke warung-warung. Jadi ukurannya diperkecil untuk menyiasati itu,” paparnya.
Ia sempat menghentikan produksi akibat harga kacang yang melonjak beberapa waktu lalu. Untuk menopang usahanya, ia juga kini membuat jajan molen. “Kalau molen ini lebih ekonomis. Tidak pakai plastik dan pisang kan buah lokal, jadinya bisa produksi terus,” ujarnya sembari mengaku khawatir dengan kenaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan harga bahan baku. (Widiastuti/bisnisbali)










