Ilustrasi. (BP/Dokumen)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Seorang pemuda asal NTT berinisial KS (23) mengaku menjadi korban penipuan, penyekapan, dan penyiksaan oleh sekelompok orang di wilayah Kuta, beberapa waktu lalu. Orang-orang tersebut dikenal lewat lowongan pekerjaan online di Bali. Korban juga mengaku diperas oleh dua perempuan, ATP dan AAAP.

Informasi diperoleh di lapangan, Selasa (9/6) berawal pada 1 Mei 2026 korban ke Bali mencari pekerjaan. Selama berada di Bali, dia tinggal di kos milik sepupunya. Selanjutnya tiga hari kemudian dia dapat informasi lowongan kerja melalui aplikasi online.

Korban mengajukan lamaran melalui aplikasi tersebut dan tidak lama kemudian diminta mengikuti wawancara di hotel, Seminyak, Kuta. “Proses wawancara berlangsung menggunakan bahasa Inggris. Korban mengaku diterima oleh ATP dan AAAP yang mengaku sebagai pengelola usaha perhotelan dan vila,” kata sumber.

Selain menjanjikan pekerjaan dengan gaji Rp 6,5 juta per bulan, para perekrut juga disebut menawarkan berbagai fasilitas seperti jabatan asisten pribadi, pengelolaan vila, kendaraan operasional, hingga tempat tinggal. Mereka berulang kali membawa-bawa nama Tuhan sehingga korban tidak curiga.

Baca juga:  Lempari Warga dengan Batu, Sejumlah Pemuda NTT Nyaris Bentrok di Jalan Pantai Balangan

Usai wawancara, korban dinyatakan diterima bekerja. Keesokan harinya, korban diminta uang Rp4 juta untuk buat seragam kerja. Korban langsung menelepon orangtuanya di kampung untuk mentransfer uang.

Setelah uang diserahkan tapi seragam kerja belum diterima, korban kemudian meminta kepada para pelaku. Karena terus ditanya korban, para pelaku mengajaknya menuju tempat jahit seragam.

Setibanya di sana, korban hanya diperlihatkan nota senilai Rp4 juta biaya jahit seragam. Namun seragam yang dijanjikan belum ada.

Saat perjalanan menuju hotel, AAAP memarahi korban serta merampas HP-nya. Kondisi tersebut membuat korban mulai curiga dan tidak bisa menghubungi keluarganya.

Pada 8 Mei 2026 saat dipindahkan ke hotel wilayah Kedonganan, korban mengaku diawasi oleh tiga orang pria yang disebut sebagai pengawal kedua pelaku. Setibanya di kamar hotel nomor 310, korban mengaku mulai mengalami penyekapan dan penyiksaan.

Baca juga:  Catut Foto Pejabat di Setda Tabanan, Oknum Penipu Tawarkan Lelang Mobil

“Korban dipukul dari kepala sampai kaki. Bahkan alat kelaminnya juga dipukul, ditendang dan diinjak,” ujarnya.

Menurut korban, para pelaku memaksanya menghubungi orangtua dan kerabat untuk meminta uang tebusan Rp100 juta, lalu turun menjadi Rp 20 juta. Ia terus dipukul dan dipaksa meminta uang kepada keluarganya. Korban juga sempat diberi minum cairan saat lampu kamar dimatikan. Saat para penjaga tertidur, korban berhasil melarikan diri.

“Akibat kejadian itu pelipis kanan korban dapat tiga jahitan karena dipukul pakai sepatu high heels,” ungkapnya.

Setibanya di warung wilayah Kedonganan, korban pinjam HP untuk menghubungi orangtuanya. Selanjutnya korban disuruh ke rumah kos dihuni warga NTT.

Korban langsung ke sana dan tidak lama kemudian kakaknya datang, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis serta visum.

Usai menjalani perawatan, korban bersama keluarga melapor ke Polsek Kuta. Mereka bersama petugas kepolisian kemudian mendatangi TKP, namun para pelaku telah check out.

Baca juga:  BNNK Klungkung Tangkap Dua Pengedar Narkoba di Minimarket

Sedangkan ibu korban, AMT (44) sudah curiga setelah anaknya minta uang Rp4 juta untuk biaya seragam kerja. Apalagi para pelaku terus meyakinkan keluarga dengan janji pekerjaan dan kerap membawa-bawa nama Tuhan dalam setiap pembicaraan.

Kecurigaan AMT makin kuat pada 8 Mei 2026 saat ia menerima pesan singkat mengatasnamakan korban dan mengaku telah mencuri uang milik atasan, melakukan pelecehan seksual, serta menabrak mobil BMW milik para pelaku.

Pihak keluarga terus menerima telepon dari pelaku yang minta uang tebusan hingga Rp 100 juta. Namun keluarga terus berdalih akan mengirimkan uang nantinya.

“Pihak keluarga korban berharap pihak kepolisian bisa menangkap para pelaku. Mereka berharap tidak ada korban lagi,” tambahnya.

Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Agus Riwayanto Diputra saat dikonfirmasi terkait peristiwa ini, membenarkan adanya kejadian tersebut. Kasus tersebut sudah ditangani penyidik Polsek Kuta. (Kerta Negara/balipost

BAGIKAN