Aktivis lingkungan, Gus Norma menyampaikan kendala mangrove di kawasam Teluk Benoa pada Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI, Mohammad Jumhur Hidayat di Tukad Bindu, Denpasar, Selasa (9/6). Kedatangan Menteri LH ini untuk berdialog dengan masyarakat, komonitas, akademisi, dan lainnya terkait lingkungan hidup. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dalam kunjungan Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI, Mohammad Jumhur Hidayat di Tukad Bindu, Selasa (9/6), turut digelar diskusi terkait persoalan lingkungan, terutama di Bali.

Diskusi tersebut, menampung aspirasi masyarakat Bali, khususnya Kota Denpasar. Selain sampah, matinya beberapa titik mangrove turut menjadi masukan komunitas lingkungan.

Salah seorang aktivis lingkungan dari Komunitas Bersih-bersih Bali, Gus Norma berkesempatan memaparkan terkait kasus kematian mangrove. Ia meminta agar Jumhur bisa merangkul kasus tersebut sehingga proses penangananya bisa dipercepat.

Baca juga:  Polemik OTT di Pura Tirta Empul, Persoalan Sebaiknya Diselesaikan Adat

Matinya mangrove ini, terjadi di beberapa titik dengan luasan mencapai 40 hingga 60 are. Hal tersebut dikarenakan adanya tumpahan minyak dari Pertamina.

Sebelumnya, dia mengakui bersama komunitas lingkungan lainnya, yakni Belati Bali, Gasos Bali sudah melaporkan kasus tersebut ke Polda Bali. “Kami ingin agar prosesnya dipercepat. Jangan gara-gara yang berkasus ini BUMN, jadi asal-asalan dan lama ditangani,” ungkapnya.

Pihaknya menginginkan agar pihak yang melakukan kelalain tersebut bertanggung jawab. Selain melakukan penanaman ulang juga melakukan pengembalian unsur hara lahan serta fungsi lingkungan tersebut.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Kembali Naik, Ada di Atas 47 Ribu

Terkait hal tersebut, Jumhur mengatakan, mengantensi kasus tersebut. Pihaknya akan melakukan komunikasi langsung dengan Pertamina Patra Niaga di Bali serta Pertamina Pusat.

“Segera kita proses, Pertamina Patra Niaga nanti kita akan panggil ajak diskusi di hotel. Pertamina Pusat juga akan kami ajak diskusi,” katanya.

Pihak kementerian akan meminta agar Pertamina bertangung jawab dengan menanam kembali pohon mangrove serta mengembalikan unsur hara lahan yang rusak tersebut. (Widiastuti/balipost)

Baca juga:  Pengungsi di Buleleng Hampir 6 Ribu Jiwa
BAGIKAN