Gempa M 5,1 mengguncang Selatan Jawa, Selasa (26/5). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Aktivitas kegempaan di wilayah Bali selama Mei 2026 masih didominasi gempa bumi berkekuatan kecil dan berkedalaman dangkal. Meski tidak terjadi gempa besar yang signifikan di Pulau Dewata, masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat Bali berada di kawasan aktif tektonik.

PMG Pertama BBMKG Wilayah III, Aina Najwa D. mengungkapkan berdasarkan pemantauan Pusat Gempabumi Regional III, selama Mei 2026 tercatat sebanyak 60 kejadian gempa bumi di wilayah Bali.

Dari jumlah tersebut, 55 kejadian memiliki magnitudo di bawah 3,0, sedangkan lima kejadian lainnya berkekuatan antara magnitudo 3,0 hingga kurang dari 5,0. Tidak terdapat gempa dengan magnitudo 5,0 atau lebih yang terjadi di Bali sepanjang periode tersebut.

“Mayoritas gempa yang terjadi merupakan gempa kecil dengan kedalaman dangkal sehingga sebagian besar tidak dirasakan oleh masyarakat,” ujar Aina saat dikonfirmasi, Kamis (4/6).

Berdasarkan kedalamannya, sebanyak 43 kejadian merupakan gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. Sementara itu, 17 kejadian lainnya tergolong gempa berkedalaman menengah antara 60 hingga kurang dari 300 kilometer. Tidak ditemukan gempa berkedalaman lebih dari 300 kilometer selama Mei 2026.

Baca juga:  Perempuan Asal Jakarta Meninggal Tertimpa Pohon di Jalan Raya Kuta, Ini Kronologinya

Menurut Aina, peta seismisitas menunjukkan aktivitas gempa dangkal selama Mei lebih banyak tersebar di wilayah utara Pulau Bali. Sedangkan gempa berkedalaman menengah terpantau tersebar di wilayah tengah hingga selatan Bali.

Secara regional, wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi dengan total 907 kejadian gempa bumi selama Mei 2026. Dari jumlah tersebut, 831 kejadian merupakan gempa berkekuatan di bawah magnitudo 3,0, sebanyak 75 kejadian berkekuatan antara magnitudo 3,0 hingga kurang dari 5,0, serta satu kejadian berkekuatan magnitudo 5,0 atau lebih.

Aktivitas kegempaan regional juga masih didominasi gempa dangkal sebanyak 739 kejadian, sementara 168 kejadian lainnya merupakan gempa berkedalaman menengah. Tidak tercatat adanya gempa berkedalaman dalam selama periode tersebut.

Selain gempa-gempa kecil yang tidak dirasakan, selama Mei 2026 tercatat tujuh kejadian gempa yang dirasakan masyarakat di Bali dan NTB. Salah satunya terjadi pada 5 Mei 2026 dengan magnitudo 6,0 yang berpusat di barat daya Wanokaka, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut dirasakan masyarakat di Denpasar dengan intensitas II MMI.

Baca juga:  Pemerkosaan Mahasiswi, Adiknya Nyaris Digagahi

Gempa lainnya yang juga dirasakan masyarakat Bali terjadi pada 26 Mei 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 5,1 yang berpusat di tenggara Jember, Jawa Timur, menimbulkan getaran dengan intensitas II hingga III MMI di wilayah Kuta, Kuta Selatan, dan Denpasar.

Aina menjelaskan, aktivitas kegempaan sepanjang Januari hingga Mei 2026 menunjukkan pola yang relatif konsisten. Dalam periode lima bulan pertama tahun ini, tercatat 443 kejadian gempa pada Januari, 36 kejadian pada Februari, 106 kejadian pada Maret, 63 kejadian pada April, dan 60 kejadian pada Mei. Sebagian besar gempa yang terjadi memiliki magnitudo di bawah 3,0 dan didominasi gempa dangkal.

Ia menambahkan, pada Januari 2026 aktivitas gempa sempat meningkat signifikan di kawasan Selat Lombok dengan 329 kejadian. Sementara pada Februari hingga Mei, sebaran gempa dangkal lebih banyak terkonsentrasi di wilayah utara Bali atau Laut Bali, sedangkan gempa berkedalaman menengah tersebar di bagian tengah hingga selatan Pulau Bali.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Makin Melandai

“Selama Januari sampai Mei 2026 tidak tercatat gempa berkekuatan magnitudo 5 atau lebih di wilayah Bali dan tidak ditemukan gempa berkedalaman lebih dari 300 kilometer. Kondisi ini menunjukkan aktivitas seismik masih didominasi sumber gempa dangkal dan menengah di sekitar Bali,” jelasnya.

Meski kondisi kegempaan masih dalam kategori normal untuk kawasan tektonik aktif, BBMKG Wilayah III mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi terkait gempa bumi. Masyarakat juga diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memahami langkah-langkah mitigasi bencana dan selalu mengikuti informasi resmi BMKG.

“Walaupun sebagian besar gempa yang terjadi berkekuatan kecil dan tidak dirasakan, masyarakat tetap perlu waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” tegas Aina.

Dengan posisi Bali yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif serta dikelilingi sejumlah sumber gempa potensial, pemantauan aktivitas seismik terus dilakukan secara intensif guna memastikan informasi kebencanaan dapat disampaikan secara cepat, akurat, dan tepat kepada masyarakat. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN