
SINGASANA, BALIPOST.com – Fenomena kemunculan bola api yang terjadi hampir setiap malam di wilayah Desa Adat Jegu, Kecamatan Penebel, belakangan menjadi perhatian warga. Peristiwa yang disebut-sebut bernuansa spiritual itu bahkan viral di media sosial hingga memancing warga luar desa datang untuk menyaksikan langsung kemunculannya.
Bendesa Adat Jegu, Ida Bagus Komang Gangga, Jumat (29/5), mengungkapkan bahwa fenomena tersebut sebenarnya bukan baru pertama kali terjadi. Menurutnya, kemunculan bola api sudah berlangsung sejak sekitar empat bulan lalu, kemudian sempat menghilang sebelum akhirnya kembali muncul belakangan ini.
“Fenomena ini sempat berhenti. Namun sekitar 10 hari setelah upacara ngaben seorang lansia yang meninggal di kawasan Gunung Batukaru, bola api kembali terlihat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bola api itu kerap muncul pada malam hari, mulai pukul 19.00 WITA hingga sekitar pukul 23.00 WITA. Lokasi kemunculannya disebut berada di sejumlah titik yang selama ini dianggap memiliki nuansa mistis, seperti area setra, Pura Prajapati, perempatan hingga perbatasan desa.
Menurut penuturan warga, kemunculan bola api juga sering dikaitkan dengan adanya warga yang meninggal secara tidak wajar atau ulah pati. Kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Untuk menyikapi fenomena itu, prajuru desa adat sempat meminta petunjuk kepada tetua desa serta sulinggih. Dari hasil petunjuk tersebut, Desa Adat Jegu disarankan menggelar upacara pecaruan Eka Sata di pura kahyangan desa.
“Setelah pecaruan dilakukan, fenomena mulai berkurang. Kalaupun muncul, cahaya bola apinya cenderung berwarna putih,” jelasnya.
Viralnya fenomena tersebut membuat banyak warga luar desa berdatangan ke lokasi yang disebut-sebut menjadi titik kemunculan bola api. Untuk menjaga situasi tetap kondusif, desa adat pun menurunkan pecalang guna melakukan pengamanan di sekitar lokasi.
Langkah itu dilakukan agar tidak ada pihak luar yang bertindak sembarangan maupun memasuki kawasan yang disucikan desa adat.
Secara pribadi, Ida Bagus Komang Gangga menilai kemunculan bola api lebih mengarah pada manifestasi energi spiritual, bukan ulah manusia yang mendalami ilmu pangeleakan. “Kalau menurut logika kami, tidak mungkin orang yang menekuni ilmu seperti itu muncul di jam-jam ramai seperti sekarang. Itu juga sudah menjadi pemahaman umum di Bali,” katanya. (Puspawati/balipost)







