Siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Denpasar tengah menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (8/1). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dijalankan secara profesional dengan standar keamanan pangan yang ketat. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah terjadinya keracunan pangan. Demikian disampaikan Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI), Tashya Megananda Yukki di Denpasar, Senin (25/5).

Ia menekankan, aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam pengelolaan dapur MBG. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga dinilai penting melalui berbagai pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Yang paling penting adalah menjaga keamanan pangan. Kualitas SDM juga harus terus ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan dan program kerja terbaik,” katanya.

Tashya menyebut, saat ini APJI telah menyiapkan pelatihan bagi kepala SPPG dan relawan di berbagai daerah. Secara nasional, jumlah kepala SPPG disebut mencapai sekitar 32 ribu orang.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu memperkuat kapasitas pengelola dapur MBG sekaligus mencegah munculnya persoalan serius seperti keracunan makanan.

“Kami harapkan pelatihan untuk kepala SPPG maupun relawan ini memberikan dampak baik sehingga tidak terjadi keracunan pangan,” tegasnya.

Baca juga:  RSU Bangli Bisa Rawat Pasien COVID-19

Lebih lanjut, Tashya mengingatkan bahwa dapur MBG tidak bisa dipandang sebagai usaha katering biasa. Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat harus memiliki keseriusan tinggi dan mengikuti pelatihan teknis yang disiapkan APJI sebelum program berjalan penuh usai Iduladha.

“Industri dapur MBG ini bukan catering biasa. Harus dijalankan dengan serius dan para mitra wajib mengikuti training dari APJI,” ujarnya.

Ia menambahkan, APJI telah menyiapkan tenaga pelatih kompeten untuk mendampingi para mitra, kepala SPPG, hingga relawan agar operasional dapur MBG berjalan sesuai standar.

“Kami memiliki pelatih-pelatih kompeten untuk memberikan masukan kepada mitra, kepala SPPG, dan relawan,” katanya.

Terkait APJI di daerah, Tashya mengakui, perkembangan organisasi APJI di Bali menunjukkan kemajuan positif. Ia mengapresiasi berbagai program yang telah disusun dan berharap seluruh hasil diskusi dapat segera direalisasikan untuk memberikan manfaat nyata bagi anggota APJI di Bali.

Baca juga:  Tips Cegah Kasus di Program MBG, dari Pemilihan Bahan sampai Makanan Siap Disantap

“Pergerakan APJI Bali sudah sangat baik. Mudah-mudahan program-program yang didiskusikan hari ini bisa terealisasi dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota,” ujarnya.

Ketua APJI Bali, I G.A. Agung Inda Trimafo Yudha menyampaikan potensi besar dalam pengembangan wisata kuliner karena kaya akan warisan makanan tradisional yang masih terjaga. Dukungan pula terhadap perkembangan pariwisata Bali mengingat 80% kegiatan jasa boga kalau ditelusuri adalah kegiatan pariwisata karena owner restoran online, catering, makanan minuman beralkohol berkaitan dengan perhotelan dan wisata.

Tidak hanya itu, kata perempuan yang akrab disapa Gek Inda ini, APJI mendukung penuh program Presiden Prabowo terkait makan bergizi gratis (MBG) dalam melatih Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).

APJI memiliki tanggung jawab untuk memastikan pelaku jasa boga di Bali semakin profesional, berstandar, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.

“Jasa boga bukan hanya tentang menyediakan makanan, tetapi tentang kualitas, higienitas, pelayanan, keberlanjutan, serta kontribusi terhadap ekonomi daerah. Melalui Rakerda ini, kami ingin membangun APJI Bali yang lebih solid, lebih aktif, dan lebih bermakna bagi anggota serta masyarakat,” ujar Inda Yudha.

Baca juga:  Bupati Artha Pantau Tes SKB Calon CPNS Formasi Jembrana

Ia menekankan juga pentingnya pembinaan anggota agar pelaku usaha jasa boga tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu naik kelas.

Sementara itu dalam rangkaian acara rakerda, APJI Bali juga menggelar lomba nasi jenggo sebagai bentuk penghormatan kepada founder nasi jenggo yang telah berjasa dalam perkembangan kuliner lokal Bali. Lomba tersebut menghadirkan sejumlah juri, termasuk tokoh kuliner dan chef yang memiliki keterkaitan dengan sejarah nasi jenggo di Bali.

APJI Bali menilai sektor kuliner, UMKM, dan fashion merupakan sektor strategis yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, organisasi tersebut menargetkan perluasan kepengurusan hingga seluruh Bali untuk memperkuat ekosistem usaha jasa boga dan wisata kuliner daerah. (Suardika/balipost)

BAGIKAN