Ternak babi di wilayah Kabupaten Tabanan kini dihantui penyakit atau virus yang mengakibatkan kematian. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kematian ternak babi terjadi hampir di sejumlah wilayah di Kabupaten Tabanan dalam dua bulan terakhir. Kondisi itu juga dialami sejumlah ternak di Desa Perean Kangin, Kecamatan Baturiti. Bahkan, sebagian besar babi milik warga dilaporkan sudah habis mati diduga akibat serangan penyakit atau virus yang hingga kini belum terkonfirmasi penyebab pastinya.

Perbekel Desa Perean Kangin, I Ketut Astra mengatakan, kasus kematian babi di wilayahnya sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir. Dari laporan warga, ternak babi yang terserang penyakit menunjukkan gejala gemetar usai makan lalu mati mendadak. Ada pula babi yang tidak mau makan selama dua hari sebelum akhirnya mati.

“Sudah dua bulan berjalan. Bahkan sudah habis ternak babi di Perean Kangin. Ada beberapa yang tidak terkena penyakit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (24/5).

Baca juga:  Ini, Kronologi Ditemukannya Dua Bocah Dirantai

Menurut Astra, hingga kini belum diketahui secara pasti jenis virus yang menyerang ternak warga. Pihak Puskeswan juga disebut sudah turun melakukan pengecekan ke desa, namun belum sampai menyasar langsung seluruh peternak yang terdampak.

“Dari Puskeswan sudah turun mengecek ke desa, kalau penanganan atau tindak lanjut ke peternak belum,” katanya.

Ia juga mengakui hingga kini belum ada tindak lanjut lebih jauh dari pemerintah daerah melalui dinas terkait terkait penanganan kasus tersebut. Kondisi ini membuat peternak semakin khawatir karena kematian ternak babi masih terus terjadi dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, drh. I Gede Eka Parta Ariana menegaskan, kematian ternak babi tidak hanya disebabkan oleh African Swine Fever (ASF), namun juga bisa dipicu penyakit lain seperti kolera babi, infeksi bakteri maupun virus lainnya. Menurutnya, dugaan ASF harus dipastikan melalui hasil uji laboratorium sehingga kasus kematian babi yang terjadi di Tabanan saat ini belum dapat dipastikan penyebabnya.

Baca juga:  Santunan Kematian di Denpasar Masih Berlangsung, Pencairan Capai Rp172 Juta Per Minggu

“Kematian ternak babi tidak hanya disebabkan ASF. Untuk diagnosa ASF harus dipastikan dengan hasil uji laboratorium. Jadi kasus kematian babi yang terjadi di wilayah Tabanan ini belum ada diagnosa pasti agar tidak salah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kasus ASF mulai muncul kembali di wilayah Badung dan Gianyar sehingga Pemkab Tabanan terus melakukan langkah antisipasi melalui imbauan kewaspadaan yang rutin dilakukan UPTD. Upaya tersebut tidak hanya fokus pada satu jenis penyakit tertentu, melainkan pengendalian penyakit ternak secara umum.

Baca juga:  Cek Jadwalnya, Pemeliharaan Jaringan Listrik di Bali pada 14 Januari 2026

Selain itu, Dinas Pertanian Tabanan juga akan mengajukan bantuan disinfektan ke pemerintah pusat melalui BBVet Denpasar untuk memperkuat langkah pencegahan di lapangan. “Surat sudah kami siapkan untuk permohonan disinfektan ke pusat, besok akan dikirim melalui BBVet Denpasar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pencegahan penyebaran virus pada ternak perlu diimbangi penerapan biosecurity secara ketat, mulai dari penyemprotan disinfektan, pembersihan kandang, pengawasan lalu lintas ternak hingga vaksinasi. “Tabanan belum terkonfirmasi adanya ASF. Kalau ada pasti dilaporkan ke dinas untuk ditindaklanjuti ke laboratorium,” tegasnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN