
SINGASANA, BALIPOST.com – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan perajin tempe di Kabupaten Tabanan. Ketergantungan terhadap bahan baku kedelai impor membuat pelaku usaha kecil rentan terdampak gejolak kurs mata uang asing.
Meski harga kedelai saat ini masih bertahan di kisaran Rp10.450 per kilogram, para perajin mulai waspada. Mereka khawatir kenaikan dolar yang kini menyentuh sekitar Rp17.700 akan memicu lonjakan harga bahan baku dalam waktu dekat.
Salah satu perajin tempe di kawasan Pasar Kodok, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Mohammad Abdulah, mengaku keresahan soal kenaikan dolar sudah ramai dibicarakan di kalangan perajin sejak sepekan terakhir. “Kami mulai khawatir karena bahan baku masih impor. Kalau dolar terus naik biasanya harga kedelai ikut naik,” ujarnya, Jumat (22/5).
Menurut Abdulah, hingga kini harga kedelai memang belum berubah. Namun ia menilai kondisi tersebut kemungkinan hanya sementara jika tekanan kurs terus berlangsung. Untuk mengantisipasi lonjakan biaya produksi, Abdulah memilih mempertahankan harga jual tempe dibanding menaikkan harga di pasaran.
Strategi yang dilakukan yakni mengurangi ukuran produk. Ketebalan tempe yang sebelumnya sekitar 2,5 sentimeter kini menjadi 2 sentimeter, sementara panjang tetap dipertahankan 20 sentimeter dengan harga Rp5.000 per potong. “Kalau harga jual dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi ukuran yang disiasati,” katanya.
Dalam sehari, Abdulah mengolah sekitar 90 hingga 100 kilogram kedelai dan mampu menghasilkan sekitar 300 potong tempe. Produksi tersebut disebut selalu habis karena telah memiliki pelanggan tetap.
Selain harga kedelai, kenaikan biaya juga dirasakan pada bahan pembungkus. Harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp415 ribu per bal kini naik menjadi Rp600 ribu per bal. Meski dihadapkan pada tekanan biaya produksi, usaha tempe miliknya masih mampu memberikan keuntungan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari dari modal produksi sekitar Rp1 juta.
Menurut Abdulah, tempe merupakan makanan rakyat sehingga kenaikan harga jual sangat berisiko terhadap daya beli masyarakat. Karena itu dia berharap harga kedelai kembali stabil di kisaran Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram agar kualitas dan ukuran tempe bisa kembali normal. “Kalau harga kedelai turun, ukuran tempe bisa dibuat lebih tebal lagi seperti dulu,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










