Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali I Nyoman Suyasa, di Denpasar, Sabtu (16/5), dalam forum diskusi mengenai penutupan TPA Suwung. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung merupakan momen perbaikan pengelolaan sampah di Bali. Sebab, penutupan TPA yang menggunakan model open dumping ini akan meminimalkan polusi lingkungan dan menjadikan masyarakat lebih sadar dalam pengelolaan sampahnya. Demikian disampaikan Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali I Nyoman Suyasa, di Denpasar, Sabtu (16/5), dalam forum diskusi mengenai penutupan TPA Suwung.

Ia mengatakan Bali sebagai destinasi wisata dunia sangat penting untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan.

Ditutupnya TPA Suwung menurutnya memiliki sejumlah keuntungan. Pertama, meminimalkan pencemaran udara, lingkungan, hingga air. Selanjutnya dampak yang dirasakan masyarakat sekitar TPA akan berkurang, terutama dari bau sampah yang menyengat.

Baca juga:  Karangan Bunga Organik Hiasi Puncak HUT Kota Gianyar

Dari sisi Pemerintah Daerah, penutupan TPA Suwung juga akan membuat lingkungan yang bersih. “Untuk itu kami di Komisi III terus mendorong upaya perbaikan pengelolaan sampah di Bali,” katanya.

Sementara itu, Kapala DLHK Provinsi Bali, I Made Dwi Arbina menyebutkan, beragam tantangan pengelolaan sampah Bali. Pertama selama ini masyarakat terlalu nyaman dengan sistem kumpul, angkut, dan buang yang menjadi beban di TPA. Kondisi saat ini TPA penuh dan lahan pun terbatas. Tantangan lainnya, belum optimalnya pemilahan sampah.

Baca juga:  Penjualan Pasir Laut

Berdasarkan kajian dari pemerintah pusat, Dwi Arbina mengatakan, keputusan penutupan TPA Suwung sudah ada sejak 2021 lalu. “Kenapa organik yang dilarang? Karena sampah organik banyak menghasilkan lindi. Itu yang dibatasi, tidak boleh,” katanya.

Untuk itu, penting dalam penanganan sampah berbasis sumber dengan pemanfaatan teba modern. Menurutnya membutuhkan waktu untuk menyadarkan masyarakat dalam mendorong pengelolaan sampah.

Penggagas Teba Modern, Wayan Balik mengatakan, pemilahan sangat berperan penting dalam pengelolaan sampah. Menurutnya secanggih apapun alat pengolahan sampah, masyarakat tidak bisa tanpa melakukan pemilahan. “Kita bisa liat negara-negara maju apakah bisa mengelola sampahnya tanpa terpilah?,” katanya.

Baca juga:  Buleleng Gunakan Papan Nama Jalan dari Limbah Plastik

Pihaknya memaparkan terkait pengelolaan sampah di Desa Cemegon yang telah memanfaatkan teba modern, bank sampah termasuk sampah residu yang sudah tersistem penangannya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN