
SINGARAJA, BALIPOST.com – Kandang milik Ketut Sukata di Banjar Dinas Pondok, Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, tampak sederhana seperti kandang sapi pada umumnya. Tidak ada pakan mahal, apalagi perawatan modern. Namun dari kandang itulah lahir seekor sapi jagiran asli Buleleng berbobot 868 kilogram yang kini dipilih Presiden RI Prabowo Subianto sebagai hewan kurban Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026.
Bagi Sukata, keberhasilan membesarkan sapi berukuran jumbo itu bukan sesuatu yang instan. Ada ketelatenan, pengalaman panjang, hingga naluri memilih bibit unggul yang telah diasah selama puluhan tahun sebagai peternak sapi Bali.
“Paling penting memilih bibit. Dilihat dari kaki, postur tubuh, sampai kukunya. Kalau kukunya agak tebal biasanya bisa besar,” ujarnya saat ditemui di kandangnya, Kamis (14/5).
Pria berusia 59 tahun itu mengaku sapi tersebut dipelihara sejak masih anakan berumur sekitar enam bulan. Saat dibeli empat tahun lalu, harganya hanya sekitar Rp11 juta dengan bobot belum mencapai 100 kilogram. Kini, sapi itu laku terjual Rp162,4 juta setelah dipastikan dibeli melalui Kementerian Sekretariat Negara sebagai sapi kurban Presiden. “Ya sudah deal. Ada kabid datang mengajukan calon sapi kurban, akhirnya diterima,” katanya.
Ini bukan kali pertama sapi peliharaan Sukata masuk ke lingkungan Istana. Ia mengaku sudah tiga kali sapinya terpilih menjadi hewan kurban Presiden. Namun, sapi kali ini menjadi yang terbesar yang pernah dipeliharanya. “Kalau dulu 636 kilogram, kemudian yang di Pegayaman 772 kilogram. Nah, yang sekarang ini paling besar, 868 kilogram,” katanya sambil tersenyum bangga.
Meski berhasil menghasilkan sapi berbobot hampir satu ton, Sukata mengaku tidak menerapkan pola pemeliharaan yang rumit. Pakan sehari-hari hanya berupa rumput, dedak, dan air. “Rumput sekeranjang sehari. Dedak sekitar empat kilogram. Tidak ada makanan khusus,” ungkapnya.
Setiap hari sapi rutin dikeluarkan dari kandang agar tetap aktif bergerak. Selain itu, hampir setiap dua hari sekali sapi dimandikan untuk menjaga kebersihan dan kesehatannya. “Yang penting pemeliharaan dan kandang bersih,” katanya.
Kecintaannya terhadap dunia peternakan diakui sudah tumbuh sejak lama. Bahkan, baginya memelihara sapi bukan sekadar pekerjaan, melainkan hobi yang dijalani dengan penuh ketulusan. “Saya memang hobi pelihara sapi. Tidak ada target,” ujarnya.
Saat ini, Sukata masih memiliki tiga ekor sapi di kandangnya. Salah satunya berbobot sekitar 488 kilogram. Seluruh bibit sapi yang dipeliharanya merupakan sapi asli Buleleng yang diperoleh dari berbagai wilayah, salah satunya Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng. “Bibitan asli Buleleng. Tidak semua sapi bisa besar,” katanya.
Sebagai peternak senior, Sukata juga pernah menghadapi masa sulit ketika wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang. Dua ekor sapinya sempat terpapar virus tersebut. “Musuh paling dikhawatirkan selain lalat ya PMK,” katanya.
Ia mengaku langsung melapor ke dinas terkait sehingga penanganan cepat dilakukan. Selain pengobatan medis, ia juga memberi ramuan tradisional berupa gula Bali kepada sapinya hingga akhirnya sembuh. Keberhasilan sapinya menembus harga ratusan juta rupiah, menurut Sukata, juga dipengaruhi kenaikan harga sapi dalam beberapa tahun terakhir.
Selain harga bibit yang semakin mahal, minat masyarakat memelihara sapi pun mulai berkurang. “Sekarang peternak sapi Bali makin sedikit. Di desa saya mungkin cuma saya yang masih suka pelihara,” katanya.
Ia berharap pemerintah ikut menjaga keberadaan sapi Bali asli Buleleng yang kini semakin sulit ditemukan. Sebab, di balik tubuh besar seekor sapi jagiran, tersimpan plasma nutfah lokal yang perlu dipertahankan.
“Bibit sapi Buleleng sekarang susah dicari. Harapan saya mudah-mudahan makin banyak yang tertarik memelihara sapi Bali,” ujarnya.
Rencananya, sapi pilihan Presiden tersebut akan disalurkan sebagai hewan kurban di Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada. Sebelum berpisah dengan sapi kesayangannya itu, keluarga Sukata akan menggelar upacara ngaturang banten pejati. “Ada perpisahan nanti. Dibuatkan banten dan doa,” katanya. (Yudha/balipost)










