Ilustrasi petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pelaku usaha perjalanan wisata di Bali mengaku khawatir apabila harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, Pertamax, naik hingga Rp17 ribu per liter. Kenaikan mengikuti harga keekonomiannya tersebut dinilai akan langsung berdampak pada biaya operasional dan harga paket wisata yang dijual kepada wisatawan.

Ketua Asita Bali, Putu Winastra di Denpasar mengatakan, kenaikan harga BBM akan sangat memberatkan pelaku usaha travel karena hampir seluruh aktivitas operasional bergantung pada transportasi.

“Pasti sangat memberatkan, karena itu pasti mempengaruhi harga-harga komponen paket yang kita jual,” ujarnya, Selasa (12/5).

Menurutnya, pelaku usaha berharap pemerintah menunda kenaikan harga BBM setidaknya hingga tahun depan agar agen perjalanan memiliki waktu menyesuaikan harga paket wisata yang sudah dipasarkan.

“Harapannya jangan ada kenaikan dulu lah. Kalaupun ada tahun depan sehingga kita bisa merubah harga-harga paket yang kita jual,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM akan menjadi beban berat terutama bagi paket wisata yang sudah lebih dulu terjual kepada konsumen. Dalam kondisi tersebut, agen perjalanan tidak dapat menaikkan harga secara sepihak sehingga potensi kerugian harus ditanggung perusahaan.

Baca juga:  Gelombang hingga 4 Meter dan Angin Kencang di Bali, BMKG Terbitkan Peringatan Dini

“Kalau paketnya sudah terjual maka kita yang akan menanggung kerugian itu. Apa yang sudah di-deal sebelumnya sudah menjadi tanggung jawab local agent kalau ada kenaikan dan sebagainya,” ungkapnya.

Putu menilai dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi mempengaruhi jumlah wisatawan. Harga paket wisata yang lebih mahal dikhawatirkan membuat wisatawan mengurangi perjalanan atau memilih destinasi lain yang lebih murah.

“Keduanya,” katanya saat ditanya apakah pelaku travel akan merugi dan wisatawan berpotensi menurun.

Sementara itu, dari sisi kunjungan wisatawan, kondisi saat ini disebut belum sepenuhnya pulih dibandingkan tahun lalu. “Bandingkan tahun lalu masih di bawahnya,” ujarnya.

Sementara itu Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi memastikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax hingga saat ini masih belum mengalami penyesuaian, meskipun terjadi perubahan harga minyak dunia. Harga Pertamax masih tetap sama dan belum mengikuti dinamika harga minyak global.

Baca juga:  Usaba Dalem Puri "Nyejer" Sepekan

“Pertamax saat ini masih belum disesuaikan harga mengikuti perubahan harga minyak dunia,” tegasnya.

Ia menegaskan, harga Pertamax hingga kini masih bertahan dan belum ada perubahan yang diterapkan oleh perusahaan.

“Betul, tapi harga Pertamax masih belum dilakukan penyesuaian sampai saat ini,” katanya.

Sementara itu, terkait kebijakan BBM bersubsidi, Ahad menyebut hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah dalam menentukan skema maupun penetapan harga.

Diketahui, harga Pertamax (RON 92) di Bali saat ini masih berada di level Rp12.300 per liter dan belum berubah sejak penetapan sebelumnya.

Selain Pertamax, sejumlah harga BBM lainnya juga tercatat tetap yakni Pertamax Green 95 sebesar Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, Pertamina Dex Rp23.900 per liter, dan Pertalite Rp10.000 per liter.

Salah satu pegawai SPBU di Denpasar, Hendra mengatakan hingga saat ini belum ada kenaikan harga BBM di lapangan.

“Harga normal, tidak ada kenaikan,” paparnya.

Baca juga:  Akan Lakukan Perjalanan dari Bali ke Borobudur, Puluhan Bikkhu dari Berbagai Negara Tiba di Bandara Ngurah Rai

Meski demikian, munculnya informasi kenaikan harga Pertamax hingga Rp17 ribu per liter mengikuti harga keekonomian mulai menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang mengandalkan BBM nonsubsidi untuk aktivitas sehari-hari.

Salah satu pengguna kendaraan di Denpasar, Made Darmawan menilai apabila harga Pertamax benar-benar naik hingga Rp17 ribu per liter maka kondisi tersebut akan sangat memberatkan masyarakat.

“Kalau sampai Rp17 ribu tentu sangat memberatkan, sementara gaji belum ada kenaikan,” katanya.

Ia mengaku penggunaan Pertamax sudah menjadi kebutuhan operasional untuk bekerja sehari-hari. Menurutnya, beralih ke BBM dengan oktan lebih rendah bukan pilihan mudah karena kendaraan yang digunakan sudah terbiasa memakai Pertamax.

“Satu sisi Pertamax menjadi kebutuhan untuk operasional pekerjaan. Kalau beralih ke BBM lain bisa saja, hanya kendaraan sudah rutin menggunakan Pertamax. Kalau turun ditakutkan mengganggu mesin kendaraan,” ujarnya.

Kondisi harga BBM yang stabil saat ini dinilai masih membantu menjaga pengeluaran masyarakat dan biaya operasional, terutama di tengah kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. (Suardika/balipost)

BAGIKAN